Sabtu, 11 Juli 2020


RUANG PUTIH
Damay Ar-Rahman

                Sebuah televisi berukuran besar memperlihatkan seorang wanita berambut panjang sedang membawa berita utama.  Televisi itu terletak di atas tiang dekat ruang dokter spesialis. Seorang wanita mengelus-elus bayinya yang tertidur pulas di gendongannya. Wanita itu melihat layar televisi, sesekali Ia juga menatap awan putih yang cerah disertai asap-asap polusi yang mengepul di udara. Wajahnya termenung menatap sederet awan yang perlahan-lahan mulai bersatu dan membentuk gumpalan putih yang tebal. Tapi ada yang risih di benaknya. Matanya yang tadinya sayu menatap datar ke luar jendela, seketika dibuat terkejut dengan mengingat mendiang seseorang yang amat dicintainya.
            Hatinya membatin, “Sampai kapan kota ini akan pulih dari pencemaran udara. Gara-gara udara kotor itu, anakku menjadi yatim.” Lagi-lagi ia pasrah dengan kondisi.
            “Sulastri Pratiwi.” Seorang suster memanggil namanya. Lastri bangun dari tempat duduknya  dan segera membawa bayinya untuk diperiksa.
            Lastri melewati orang-orang yang duduk berjejer. Beberapa di antara mereka memperhatikan Lastri dan anaknya.
            “Bagaimana dokter dengan anak saya?”
            “Gini buk, kondisi Jannah semakin parah, sepertinya Ibu harus tinggal di Jakarta untuk sementara. Soalnya Jannah harus menerima perawatan dari kami. Jika tidak kemungkinan besar tumor Jannah tidak akan hilang, tubuhnya akan semakin memburuk.” Dokter menyampaikan dengan wajah berduka.
            “Ya Allah, cobaan apa lagi ini. Suamiku baru aja meninggal. Jika nanti aku tinggalkan kampung bagaimana kedua anakku yang sekarang entah sedang apa.” Ucapnya pelan.
            “Dokter apakah tidak ada jalan lain.” Sambungnya lagi.
            “Maaf bu, ini keputusan terakhir.” Sang dokter menarik nafasnya secara pelan.
            “Baik dokter, saya akan berusaha yang terbaik buat Jannah. Terimakasih dokter, berarti besok jam berapa saya kembali?”
            “Jam 10.” Ucapnya singkat, sambil melirik jam dinding dihadapannya.
            “Baik Dokter. Saya pamit.” Ucap Sulastri sambil tersenyum getir.
            Lastri membuka pintu ruang dokter sambil berpikir. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Kemungkinan kedua anaknya yang ditinggalkan di kampung itu harus dibawanya juga ke Jakarta. Sanak saudara di kampung sudah pada meninggal dan beberapa ke luar negeri bekerja.Wanita yang baru saja ditinggal suaminya lima bulan lalu itu, terpaksa harus pergi ke kota besar untuk membawa anak bungsunya berobat sekaligus mengambil uang ansuransi kematian suaminya Aryo. Aryo menderita penyakit radang paru-paru sejak kepergiannya ke Jakarta tiga tahun lalu. Ia bekerja sebagai pengangkut sampah. Aryo seorang pemuda lulusan SMP menikahi kembang desa yaitu Lastri lulusan SMA. Mereka dikarunia dua orang putra dan satu orang putri.  Syukur sebagai anak pertama, adik keduanya Iman, dan terakhir Jannah.
            Lastri sebagai seorang istri selalu bersikeras merawat anaknya dengan baik. Walaupun ia tidak bersekolah tinggi. Lastri rajin mengunjungi perpustakaan di kampugnya, seminggu ia meminjam lima buku, dan dibaca setelah menyelesaikan tugasnya mengurus anak dan rumah. Buku-buku itu habis di bacanya, terutama buku-buku cerita atau novel untuk menambah motivasi yang akan diceritakannya pada anak-anaknya sebelum tidur. Ia juga mengajarkan ilmu agama pada anak-anaknya. Si kecil Jannah sering ditidurkannya dengan membaca shalawat. Iman suka membantunya memasak di dapur. Syukur banyak menghabiskan waktunya untuk mengambar. Bergambar adalah hobinya sejak kecil. Banyak karya yang bisa ia hasilkan dan pamerkan dengan nilai yang tinggi.
            Setiap Aryo pulang dari Jakarta, tidak ada keinginan lain selain perlengkapan menggambar untuk dijadikan bahannya bermain-main. Lastri sering tersenyum melihat tingkah Syukur yang pintar dalam membuat pola-pola gambar yang bagus dan unik. Bila anak-anak seusianya banyak bermain di kali atau di sawah, Syukur lebih memilih menyendiri dan terkadang duduk di dekat adik bungsunnya untuk meneruskan bakatnya yang tak tanggung-tanggung itu. Kehebatan menggambar menghartarkannya menjadi juara utama dalam nasional saat ia duduk di bangku sekolah menengah pertama kelas dua.
            Namun, setelah dua bulan membawa piala, terdengar kabar bahwa sang ayah harus di rawat di rumah sakit dan akhirnya meninggal karena sedikitnya biaya untuk berobat. Sejak kehilangaan Aryo, Syukur jadi anak yang keras. Lastri sering mendapat panggilan sekolah karena ulahnya.
            Pernah suatu ketika, Syukur duduk di bawah pohon belakang sekolah. Seorang anak laki-laki dan kedua temannya memanggil Aryo dengan ucapan sinis hingga membuatnya marah besar.
            “Hei anak bodoh, mana bakat kunomu. Lihatlah wajahmu seperti orang gila dan sangat lusuh.” Aryo diam dan tidak menggubris. Namun hatinya merasa tersinggung tapi ia tak ingin mencari masalah.
            “Hei anak yatim. Ayahmu mana? Udah mati ya? Makanya jangan jadi orang miskin. Jadinya kamu ditinggal bapakmu yang penyakitan itu. Hahahaha” Anak tersebut bersama teman-temannya tertawa sambil memegang kedua pinggulnya dengan wajah angkuh.
            Diam-diam Syukur mengenggam tangannya dengan keras. Hatinya mulai panas membara. Sedangkan anak-anak rusuh itu masih menertawainya. Sebuah batu besar tepat dihadapannya. Ia tatap batu itu dengan murka dan langsung brakkkkk mengenai wajah anak itu satu-persatu. Langsung saja ketiganya menjerit sambil memegang kepalanya yang membiru dan benjol. Syukur masih duduk dengan emosi yang sudah lagi tidak terkendali. Ia sama sekali tidak berpikir tentang apa yang akan menimpanya nanti. Syukur benar-benar berubah dan membuat Lastri kesusahan setiap kali menghadapinya. Sebuah surat tiba-tiba datang dari Suparno anak tetangganya, lalu diserahkaan kepada Lastri yang sedang menyapu halaman.
            Lastri membaca surat itu dengan cepat. Awalnya ia berwajah biasa. Tapi, lama-lama surat itu membuat hatinya lemah. Ia tak menyangka bahwa itu adalah surat ketiga kalinya atas perbuatan Syukur mengeroyoki teman-teman sekolahnya. Ia menghela nafas panjang. Memegang dadanya. Menatap sedih bunga-bunga yang baru saja disiramnya.
            “Baru pulang Syukur?” Lastri bertanya dengan lembut. Namun jawaban yang diterimanya hanya diam dan wajah yang tidak menyenangkan dari Syukur.
            “Apa yang kamu lakukan nak? Apa kamu berbuat masalah lagi.” Syukur terdiam dan menunduk.
            “Mengapa kamu berubah nak?” Tanyanya sambil menangis.
            “Syukur jawab ibu nak?” Desaknya.
            Syukur menatap sejenak wajah ibunya. Syukur tak berani menjawab, ia tidak tega melihat wajah Lastri yang sedih dan seperti menahan amarah padanya. Ia tahu. Bahwa Lastri sedang mencoba kuat dan sabar. Daripada Syukur semakin sedih dan bisa membuatnya naik darah, ia pun melemparkan tasnya ke lantai dan berlari ke luar rumah dengan melewati perkebunan teh dan menuju sebuah bukit, tempatnya dan Aryo sering menghabiskan waktu untuk menemaninya menggambar.
            Aryo semakin mengeram dan wajahnya benar-benar terlihat marah. Ia tidak tahan lalu berteriak memanggil “ Ayah.....”
***
            “Woi serahkan semua uang kalian. Jangan berpura-pura bodoh.” Ucap seorang pria bertubuh kekar berambut gondrong.
            “Serahkan uang tempat kalian pangkal di sini. Atau aku dan anak buahku takkan memberi ampun.” Ucapnya dengan wajah kasar.
            “Bos ada Pak Tarjo. Kita sambat bos. Diakan udah tiga hari ngak bayar.”
            Pria bertubuh kekar itu memandang sinis ke arah pria tua yang sedang menunduk seperti ketakutan.
            “Woi pria tua. Pura-pura lupa kau sama aku. Yah.” Ucapnya sambil menunjuk-nunjuk ke hidung pria tua itu.
            “Nak tolong bapak. Bapak ngak punya uang. Dagangan sepi. Susana lagi krisis.”
            “Apa urusan gue. Lo tugasnya Cuma bayar uang gue atau ngak hancur semua usaha butut lo ini.”
            “Nak Syukur. Kasihani bapak. Cucu bapak kelaparan di rumah.” Ucapnya merintih.
            “Dasar tua bangka. Hancurkan barang-barangnya.” Pria berwajah jahat itu meminta anak buahnya untuk mengobrak-abrik sayur-sayur pria tua itu. Benar saja, dalam sekejab semuanya berantakan.
            Sejak Lastri membawanya ke kota. Syukur benar-benar tidak bisa diatur lagi. seminggu hingga dua bulan ia masih bisa berdiam diri di rumah. Beberapa sekolah sudah didaftarkan untuknya, tapi ia memilih bolos dan pergi entah ke mana. Kerasnya ibu kota telah membawanya menjadi orang yang kasar dan apatis dengan siapapun. Lastri sedih melihat putranya, belum lagi Jannah yang harus terus-menerus di rawat. Hingga pada suatu hari, Jannah dinyatakan sembuh dan dapat menjalani aktivitas dengan normal. Pekerjaan Lastri sebagai tukang cuci di toko Laundry tidak cukup untuk hidup di Jakarta. Ia berinisiatif untuk pindah ke kampung halaman. Mungkin, dengan memindahkan Syukur dapat merubahnya lebih baik dengan suasana desa tempat masa kecilnya
            Namun respon Syukur hanya kehampaan pada Lastri dan adik-adiknya.
            “Aku sudah senang tinggal di sini buk.”
            “Ikutlah dengan ibu. Kita akan membuka usaha yang lebih baik lagi di sana.”
            “Tidak ibu. Pulanglah, aku dan temanku akan merantau jauh. Aku sudah sangat benci dengan kehidupan melarat ini.”
            Lastri hanya diam. Ia sejujurnya gundah dan ingin menentang keputusan Syukur. Tapi, mungkin ini jalan hidup anaknya. Hari itu juga, Lastri pamit dan menasehati Syukur untuk terus berada pada jalan kebenaran.
***
            “Bos, sepertinya memang harus balik kampung. Kondisi Jakarta makin kacau karena virus ini. Nanti kalau kita tertular gimana?”
            “Aku ngak takut. Virus bangsat itu tidak akan berani menyentuhku. Kenapa kau takut Boy?”
            “Eh bukan gitu bang. Ibu saya sudah cemas sama saya. Ia ingin saya balik kampung.”
            Mendengar kata-kata ibu, Syukur teringat dengan Lastri yang sudah meninggalkannya selama 12 tahun. Entah bagaimana kabar keluarganya sekarang. Pikirannya melayang pada Iman dan Jannah. Tidak berselang lama Boy pamit disusul temannya untuk bersiap-siap.
            Kota Jakarta semakin sepi. Pasar-pasar tradisional sedang tidak beroperasi. Di sebuah kontrakan kecil, Syukur merasakan tubuhnya mengigil dan batuknya semakin parah. Ia hanya terbaring di kasur lusuh dengan perut keroncong selama dua hari. Terdengar serune ambulan melintas di depan rumahnya. Syukur segera keluar dan berusaha keras untuk memberhentikan mobil itu. Seorang anak muda turun dengan baju pelindung. Syukur segera menghampiri namun ia tiba-tiba pingsan dan saat matanya di buka sudah di rumah sakit. Syukur sakit parah akibat tertular virus corona.
            Ia melihat ruangan tempatnya dirawat. Seorang dokter mendatanginya dengan baju pelindung.
            “Apakah kamu Syukur?” Tanya dokter itu lembut.
            “Apa urusannya bertanya nama gue. Kan sudah terpampang di buku yang Loe pegang.” Ucapnya kasar berwajah sinis.
            “Sa..sa..ya Iman. Adik abang” Ucapnya dengan nada serak, lalu penutup mulut yang dikenakannya terlihat basah seperti tersiram butiran air yang mulai menetes di bola matanya.
“ Abang ke mana aja selama ini. Ibu selalu teringat sama abang. Kami sudah putus asa untuk mencari.” Lanjtnya. Suaranya semakin terdengar serak dan ia membuka seluruh benda yang menutupi wajahnya.
            Melihat wajah dokter itu, Syukur menerawang seluruh parasnya sambil menyipitkan mata. Syukur tercengang dan matanya merah. Ia menganga, lalu kedua manusia itu dibanjiri air mata.
           

Rabu, 03 Juni 2020

Short Stories and Poems


PENYESALAN DAN CINTA

            Matahari tampak bersinar terang. Hawa panas begitu terasa. Para pedagang kaki lima tak henti-hentinya memulas kening bahkan seluruh wajahnya karena basah oleh keringat. Orang-orang yang mondar-mandir di pinggir jalan sesekali memperhatikan orang-orang di sampingnya. Seorang bocah perempuan menggunyah permen karet lalu membuangnya di tengah jalan. Sang ibu yang melihatnya segera berhenti dan menasehatinya untuk tidak melakukan hal buruk itu lagi di manapun. Sang anak hanya menatap ibunya dengan wajah penuh peneyesalan. Sang ibu pun tak tega melihat gadis kecilnya yang memperlihatkan wajah layu seperti ingin menangis. Lalu wanita dengan kerudungnya yang coklat segera mengendong anaknya. Ia membujuk juga tersenyum lalu mengatakan “Ibu tidak marah sayang.” Sang anak memeluk ibunya karena merasa tenang.
            Drugggghhhh suara hantaman terdengar tiba-tiba. Suara itu menghentikan orang-orang yang memenuhi pinggir jalan lalu segera  mengerumuni untuk melihat kejadian. Wanita dengan gadis kecilnya tadi terkejut. ”Ibu suara apa itu?” Sang ibu pun memulas lembut pipi putrinya dan mengatakan “Tidak ada apa-apa”. Terbenak di hatinya untuk melihat kejadian itu. Barangkali seseorang yang tertabrak tersebut adalah orang yang dikenal pikirnya. Tapi, melihat putrinya yang masih kecil, ia merasa harus mengurungkan niatnya. Tidak baik rasanya memperlihatkan kejadian buruk kepada anak dibawah umur. Tapi, entah kenapa hatinya memaksa untuk melihat. Ia pun berpikir untuk menitipkan gadis kecilnya sebentar pada Ibu Maimunah warung kelontong langganannya. Ia menuju warung itu dengan sedikit cepat sambil mengendong putrinya dengan menghabiskan waktu perjalanan 15 menit.
            “Ibu tolong jaga Santi ya.” Pintanya dengan nafas tersengal. Ibu Maimunah melihat wanita itu dan anaknya dengan heran.
            “Oh iya boleh buk. Memang ada apa?” Tanya bu Maimunah.
            “Ada keperluan sebentar.”
            “Oh begitu, boleh buk Mira. Ayo sini sama wawak.” Kata buk Maimunah sambil membuka kedua tangannya seperti ingin memeluk Santi. Santi melepaskan kain baju ibunya yang sepanjang jalan terus digenggamnya. Santi dengan suka rela ditinggalkan ibunya. Ia sudah menganggap bu Maimunah seperti temannya.
            Mira terlihat berjalan dengan tergesa-gesa. Kadang-kadang muncul dipikirannya untuk apa melihat tabrakan itu. Inikan hal biasa dan sering terjadi. Tapi, Mira adalah orang yang paling tidak bisa memendam rasa penasarannya. Inikan hanya sebentar saja pikirnya.
            Mira sedikit lagi tiba di lokasi. Orang-orang masih berkerumunan melingkari lokasi kejadian. Mira sedikit sulit memasuki kerumunan itu. Sepertinya kejadian ini sangat parah ucap dalam hatinya. Asap hitam masih mengepul di udara. Suara klskson para pengendara terdengar berisik ditambah lagi suara orang-orang yang saling membicarakan tabrakan itu. Akhirnya Mira berhasil melewati kerumunan. Ia sampai dan masih mencari-cari korban tabrakan tersebut. Tiba-tiba darahnya terasa dingin, jantungnya berdetak kencang, dan matanya membesar. Ia menganga, lalu menutup mulutnya melalui tangan kananya.
            “Ya Allah.... benarkah ini.” Ucapnya tidak percaya sambil menggelengkan kepala.
***
            Meja makan terlihat lezat dengan hidangan beraneka ragam masakan. Sebuah rumah menampakkan orang-orang yang terlihat sibuk menyiapkan sebuah acara besar. Ada yang memasang tenda, panggung haiburan, dan pelaminan besar nan mewah. Rumah itu menampilkan hiasan-hiasaan indah dengan tangga yang panjang melingkar. Gagangnya terbuat dari kayu berwarna coklat berukiran bunga. Seorang wanita turun dengan anggun mengenakan pakaian pengantin menuju para tamu. Orang-orang itu tak lain adalah keluarga Mira dan calon suaminya yang menampakkan wajah ceria dan bahagia. Mira tersenyum simpul sambil memegang bunga. Ia didampingi oleh kakaknya menuju penghulu untuk segera mengikrarkan pernikahan. Setelah menuruni anak tangga, kakaknya melepaskan rangkulan dan diganti oleh Sara sahabat masa kecilnya.
            “Aku malu Sara.” Ucap Mira sambil memegang erat tangan sahabatnya.
            “Ahh kamu itu kenapa sih. Masa malu, macam kenal Randi dari perjodohan orangtuamu saja. Kaliankan sudah sembilan tahun menjalin cinta.” Sara terkekeh kecil menertawakan sahabatnya.
            “Ih bukan itu. Inikan hari yang dek..dekan lo.” Bisiknya lagi.
            “Udah.. kita mau sampai ni. Tenang ya.”
            “Bismillah.” Mira berucap sambil mengelus dadanya.
            Di depan seorang pria mengenakan jas hitam bersama kopiahnya. Pria itu terlihat gagah dan tampan. Lesung pipinya memancarkan keceriaan pada sang pujaan Mira. Pria itu memberikan tangganya untuk mengajak Mira duduk disampingnya. Mira tersipu malu. Randi masih menatapnya yang tak jemu-jemu oleh kejelitaan Mira yang memukau di hari istimewa mereka.
            “Apakah semuanya siap.” Tanya penghulu.
            “Siaaaapp.” Ucap para tamu.
            “Bagaimana dengan kamu Randi?”
            “Bismillah pak. Saya siap.” Ucapnya tegas namun bernada pelan sambil tersenyum.
            Pak penghulu memegang tangan Randi dan menuntunnya untuk mengucapkan janji suci dihadapan khalayak. Mira dan Randipun telah sah menjadi suami istri. Mereka terlihat saling bertatap dan Randi mencium keningnya yang halus. “Aku bahagia.” Bisik Mira. “Aku lebih bahagia istriku.” Mira tertawa kecil dan melirik Sara yang dari kejauhan memperhatikan keduanya.
            Pernikahan itu berlangsung meriah. Tak sedikitpun tampak wajah-wajah lelah. Mereka berbahagia atas pernikahan sepasang pengantin yang telah menjalin cinta selama bertahun-tahun. Mira dan Randi memiliki pemikiran yang sama, kesukaan yang hampir seluruhnya sama, dan terpenting adalah cinta yang akan selalu terjaga selamanya. Sara sahabatnya tak luput dari suksesnya pesta itu. Ia selalu merencanakan yang terbaik bagi Mira dan Randi. Kisah cinta itu awalnya tak direstui pihak wanita. Lantaran Randi yang belum berkecukupan dan belum bekerja. Tapi Randi tak menyerah mempertahakan hubungan yang dibina sejak mereka SMA. Mira sebagai sarjana bisnis Inggris, memiliki beragam ide membangun perusahaan yang telah dipercayakannya. Randi yang juga sejurusan dengannya di Indonesia  turut membantu, sehingga mereka berhasil menggapai hasil yang maksimal.
            Tiga tahun setelah pernikahan, Mira melahirkan Santi. Seharusnya Mira sudah memiliki anak setahun yang lalu. Tapi ia keguguran karena terjatuh dari lantai tempatnya bekerja. Namun, Mira tidak putus asa dan berusaha untuk membahagiakan suaminya. Ia berhasil menghadirkan buah hati. Randi sangat senang dengan hadiah dari istrinya itu. Tapi, tidak lima tahun kemudian.
            “Apa yang terjadi dengan Randy dokter?” Tanya Mira dengan nada lemah. Wajahnya suram dan terlihat sangat tidak bersemangat. Ruangan ICU sangat sepi hanya seorang perawat sedang mencatat identitas korban satunya lagi.
            “Apakah ia suami ibu?”
            Mira diam dan menatap sebentar sang dokter.
            “Apakah ibu baik-baik saja?”
            “Saya baik dokter. Saya tidak apa-apa.” Iapun membuka suara dengan tegar dan kuat.
            “Baiklah, Sara hanya sedikit luka di kepalanya. Tapi Randi mengalami cidera parah di beberapa anggota tubuhnya. Kemungkinan ada beberapa hal buruk yang akan membuat ibu lebih tegar mengahadapinya. Ibu yang sabar. Semuanya ada hikmah” Dokter seperti sudah paham dengan situasi yang terjadi. Dokter hanya berbicara pada topik permasalahan. Dokter merasa bahwa harus mengatakan secara langsung. Hal ini juga dapat memudahkan segala masalah.
            Mira terus menunduk dan menatap kosong ke lantai rumah sakit. Ia pun menangis. Ia sama sekali tak menyangka atas kejadian pelik ini. Ia tak mau bertanya lagi, yang ada hanya memerihkan hati. Menambah luka yang semakin dalam. Lebih baik ia mendengar daripada berbicara. Dokter itu pergi meninggalkan Mira sendiri. Suasana benar-benar lenggang. Ia terkulai lemas dan tidak berdaya. Di kejauhan seorang gadis kecil berlari-lari menemuinya dan memeluknya dengan sigap.
            “Ibu kenapa menangis?”
            “Tidak sayang. Ibu hanya kelilipan.” Ucapnya lirih.
            Mira melepas genggaman putrinya dan memulas pipinya. Ia menuju ruangan suaminya di rawat. Menatap suaminya dan seseorang di sampingnya dengan balutan perban berwarna putih yang sebagiannya di banjiri darah. Mira merasa tak sanggup melihat apa yang terjadi. Ia tertekan serasa ingin mati. Dadanya sesak. Tapi lagi-lagi Santi membuatnya ingin hidup sampai gadis kecilnya itu dewasa nanti. Ia serba salah dan akhirnya ia berdoa meminta petunjuk.
***
            Lima bulan yang lalu.
            “Apa yang kamu lakukan Mira.” Randi meninggikan suaranya.
            “Aku hanya ingin kamu dan Santi ada yang menjaga.” Mira mencoba menenangkan suaminya yang mulai emosi.
            “Ini bukan jalan keluar.” Ucap Randi dan memegang bahu Mira.
            “Ini cara yang tepat bagiku Randi.” Mira bersuara rendah.
            “Hentikan omong kosong ini Mira. Kamu tetap istriku. Apapun yang kamu alami kamu tetap wanita yang aku cintai.” Randi memegang kedua pipi Mira dan melekatkan dahinya ke dahi Mira. Randi menangis keras. Ia tidak mau berpisah dengan Mira.
            “Aku mohon. Demi aku dan Santi Randi.” Ucap Mira sambil mengenggam tangan suaminya itu.
            Randi menatap kecewa dengan Mira. Rasanya ia ingin membenci semua takdir yang terjadi. Tapi, apa boleh buat. Ini semua bukan kehendak mereka. Mau tidak mau Randi harus menjalani pernikahan kedua kalinya. Mira sangat sulit untuk diajak mengerti tentang hati Randi. Tapi Randi sadar atas pengorbanan sang istri. Mira sengaja memilih di madu karena penyakit kistanya. Ia memilih Sara sebagai sahabat terbaiknya. Sara juga beberapa kali menolak tak ingin menghancurkan rumah tangga Mira.
            “Ini bukan kamu yang mau Sara. Aku yang memintamu, aku mohon kali padamu.”
            Sara terdiam. Perlahan-lahan ia meneteskan air mata. Tanpa berkata apapun, bahkan tanpa melihat Mira pun, Mira langsung memutuskan bahwa Sara menerima permintaannya.
            “Randi, kamu benar maukan menerima permintaan terakhirku?”
            Randy masih menunduk.
            “Randy.” Pria itupun menatap tegas pada Mira. Wajahnya menonjolkan kemarahan yang besar namun matanya memperlihatkan rasa sayang dan cinta yang tak terbendung lagi oleh air mata.
            “Baik Mira. Tapi izinkan aku mempersiapkan diriku benar-benar dalam lima bulan ini. Aku ngak bisa melangsungkan pernikahan begitu saja.”
            “Baik. aku terima.” Terdengar suara petir menyambar. Hujan turun deras. Menunjukkan kedua pasangan itu dari kaca jendela yang diuapkan udara hujan.
***
            Mira menatap taman rumah sakit. Terduduk di kursi panjang dekat sebuah pohon yang lebat daunnya. Ia merenung seperti merasa menyesal telah memaksa Randi dan Sara melakukan kemauannya. Mira berharap dengan kepergiannya ke Inggris, untuk melakukan terapi akan membuatnya sembuh dan kembali memulihkan rumah tangganya. Seandainya Mira tak berputus asa untuk hidup sebelum kejadian itu, dan mencari tahu pada kerabatnya di Inggris untuk penyembuhan, pastilah hal buruk itu takkan terjadi. Dan benar saja, harapannya untuk hidup terwujud. Setelah hamir setahun Mira menjalani pengobatan yang ditemani Ibunya dan Sara. Namun, Randi harus menghabiskan waktunya bertahun-tahun di kursi roda karena lumpuh. Cinta sejati tidak pernah mengkhianati hati mereka. Saling menerima dan belajar dari masa lalu. Mira dengan suka cita dan tulus merawat Randi. Sara telah di karuniakan satu orang anak dari pernikahannya dengan adik ipar Mira yaitu Ruslan.  Dokter itu benar. Segala ketetapan Tuhan menghasilkan nilai dan hikmah. Alhasil, semuanya berakhir utuh dan lebih indah.
            SAAT KEJADIAN KECELAKAAN
            Saat itu, Randi merasa berat beban yang ia dapatkan. Pekerjaan sudah tidak lagi terbenak dan dipikirkan. Hidupnya hampa tanpa Mira. Dan Sara juga tak ingin menyakiti suami sahabatnya itu. Saat mereka mencari Mira yang belum pulang selama dua minggu. Randi tidak sadar bahwa mobilnya sedang kondisi rusak. Ia tidak tahan dengan wajah Mira yang menghantui pikirannya. Hingga hari itu, sebuah sepeeda motor menyebrang. Randi tidak memperhatikan dan kecelakaan itu terjadi.
           












Sepenggal Puisi
UDARA KEMATIAN

Aroma menghembus
Membawa pesan
Bukan sembarang kata
Punya tujuan yang tertanam dalam

Suara seluit terdengar runcing
Menyatu hitam ditindih merah berdarah
Masa sudah semakin menengah
Menandakan akan dipanggil sesaat lagi

Seseorang terlihat gontai berjalan
Menyebarkan aroma tapi mengasingkan badan
Ia berpakaian pucat
Rambut-rambutnya mengacak sinar rembulan
Mencari sehelai harapan
Ingin menyentuh dan membawanya
Hati telah remuk terhantam badai
Sesal dan pukulan tak cukup mengalihkan

Mungkin aroma maut adalah akhir
Sebuah rindu yang dibalik kebenarannya adalah maaf
Mata-mata telah siap menikam nyawanya
Mungkin bukan hanya dirinya
Dan menjadi perbincangan para udara kematian



Minggu, 22 Maret 2020

Cerpen, Puisi & Pengetahuan


PENYESALAN DAN CINTA

            Matahari tampak bersinar terang. Hawa panas begitu terasa. Para pedagang kaki lima tak henti-hentinya memulas kening bahkan seluruh wajahnya karena basah oleh keringat. Orang-orang yang mondar-mandir di pinggir jalan sesekali memperhatikan orang-orang disampingnya. Seorang bocah perempuan menggunyah permen karet lalu membuangnya di tengah jalan. Sang ibu yang melihatnya segera berhenti dan menasehatinya untuk tidak melakukan hal buruk itu lagi di manapun. Sang anak hanya menatap ibunya dengan wajah penuh peneyesalan. Sang ibu pun tak tega melihat gadis kecilnya yang memperlihatkan wajah layu seperti ingin menangis. Lalu wanita dengan kerudungnya yang coklat segera mengendong anaknya dan tersenyum. Ia mengatakan “Ibu tidak marah sayang.” Sang anak memeluk ibunya karena merasa tenang.
            Drugggghhhh suara hantaman terdengar tiba-tiba. Suara itu menghentikan orang-orang yang memenuhi pinggir jalan lalu segera  mengerumuni untuk melihat kejadian. Wanita dengan gadis kecilnya tadi terkejut.” Ibu suara apa itu?”. Sang ibupun memulas lembut pipi putrinya dan mengatakan “Tidak ada apa-apa”. Terbenak di hatinya untuk melihat kejadian itu. Barangkali seseorang yang tertabrak tersebut adalah orang yang dikenal pikirnya. Tapi, melihat putrinya yang masih kecil, ia merasa harus mengurungkan niatnya. Tidak baik rasanya memperlihatkan kejadian buruk kepada anak dibawah umur. Tapi, entah kenapa hatinya memaksa untuk melihat. Ia pun berpikir untuk menitipkan gadis kecilnya sebentar pada Ibu Maimunah warung kelontong langganannya. Ia menuju warung itu dengan sedikit cepat sambil mengendong putrinya dengan menghabiskan waktu perjalanan 15 menit.
            “Ibu tolong jaga Santi ya.” Pintanya dengan nafas tersengal. Ibu Maimunah melihat wanita itu dan anaknya dengan heran.
            “Oh iya boleh buk. Memang ada apa?” Tanya bu Maimunah.
            “Ada keperluan sebentar.”
            “Oh begitu, boleh buk Mira. Ayo sini sama wawak.” Kata buk Maimunah sambil membuka kedua tangannya seperti ingin memeluk Santi. Santi melepaskan kain baju ibunya yang sepanjang jalan terus digenggamnya. Santi dengan suka rela ditinggalkan ibunya. Ia sudah menganggap bu Maimunah seperti temannya.
            Mira terlihat berjalan dengan tergesa-gesa. Kadang-kadang muncul dipikirannya untuk apa melihat tabrakan itu. Inikan hal biasa dan sering terjadi. Tapi, Mira adalah orang yang paling tidak bisa memendam rasa penasarannya. Inikan hanya sebentar saja pikirnya.
            Mira sedikit lagi tiba di lokasi. Orang-orang masih berkerumunan melingkari lokasi kejadian. Mira sedikit sulit memasuki kerumunan itu. Sepertinya kejadian ini sangat parah ucap dalam hatinya. Asap hitam masih mengepul di udara. Suara klskson para pengendara terdengar berisik ditambah lagi suara orang-orang yang saling membicarakan tabrakan itu. Akhirnya Mira berhasil melewati kerumunan. Ia sampai dan masih mencari-cari korban tabrakan tersebut. Tiba-tiba darahnya terasa dingin, jantungnya berdetak kencang, dan matanya membesar. Ia menganga, lalu menutup mulutnya melalui tangan kananya.
            “Ya Allah.... benarkah ini.” Ucapnya tidak percaya sambil menggelengkan kepala.
***
            Meja makan terlihat lezat dengan hidangan beraneka ragam masakan. Sebuah rumah menampakkan orang-orang yang terlihat sibuk menyiapkan sebuah acara besar. Ada yang memasang tenda, panggung haiburan, dan pelaminan besar nan mewah. Rumah itu menampilkan hiasan-hiasaan indah dengan tangga yang panjang melingkar. Gagangnya terbuat dari kayu berwarna coklat berukiran bunga. Seorang wanita turun dengan anggun mengenakan pakaian pengantin menuju para tamu. Orang-orang itu tak lain adalah keluarga Mira dan calon suaminya yang menampakkan wajah ceria dan bahagia. Mira tersenyum simpul sambil memegang bunga. Ia didampingi oleh kakaknya menuju penghulu untuk segera mengikrarkan pernikahan. Setelah menuruni anak tangga, kakaknya melepaskan rangkulan dan diganti oleh Sara sahabat masa kecilnya.
            “Aku malu Sara.” Ucap Mira sambil memegang erat tangan sahabatnya.
            “Ahh kamu itu kenapa sih. Masa malu, macam kenal Randi dari perjodohan orangtuamu saja. Kaliankan sudah sembilan tahun menjalin cinta.” Sara terkekeh kecil menertawakan sahabatnya.
            “Ih bukan itu. Inikan hari yang dek..dekan lo.” Bisiknya lagi.
            “Udah.. kita mau sampai ni. Tenang ya.”
            “Bismillah.” Mira berucap sambil mengelus dadanya.
            Di depan seorang pria mengenakan jas hitam bersama kopiahnya. Pria itu terlihat gagah dan tampan. Lesung pipinya memancarkan keceriaan pada sang pujaan Mira. Pria itu memberikan tangganya untuk mengajak Mira duduk disampingnya. Mira tersipu malu. Randi masih menatapnya yang tak jemu-jemu oleh kejelitaan Mira yang memukau di hari istimewa mereka.
            “Apakah semuanya siap.” Tanya penghulu.
            “Siaaaapp.” Ucap para tamu.
            “Bagaimana dengan kamu Randi?”
            “Bismillah pak. Saya siap.” Ucapnya tegas namun bernada pelan sambil tersenyum.
            Pak penghulu memegang tangan Randi dan menuntunnya untuk mengucapkan janji suci dihadapan khalayak. Mira dan Randipun telah sah menjadi suami istri. Mereka terlihat saling bertatap dan Randi mencium keningnya yang halus. “Aku bahagia.” Bisik Mira. “Aku lebih bahagia istriku.” Mira tertawa kecil dan melirik Sara yang dari kejauhan memperhatikan keduanya.
            Pernikahan itu berlangsung meriah. Tak sedikitpun tampak wajah-wajah lelah. Mereka berbahagia atas pernikahan sepasang pengantin yang telah menjalin cinta selama bertahun-tahun. Mira dan Randi memiliki pemikiran yang sama, kesukaan yang hampir seluruhnya sama, dan terpenting adalah cinta yang akan selalu terjaga selamanya. Sara sahabatnya tak luput dari suksesnya pesta itu. Ia selalu merencanakan yang terbaik bagi Mira dan Randi. Kisah cinta itu awalnya tak direstui pihak wanita. Lantaran Randi yang belum berkecukupan dan belum bekerja. Tapi Randi tak menyerah mempertahakan hubungan yang dibina sejak mereka SMA. Mira sebagai sarjana bisnis Inggris, memiliki beragam ide membangun perusahaan yang telah dipercayakannya. Randi yang juga sejurusan dengannya di Indonesia  turut membantu, sehingga mereka berhasil menggapai hasil yang maksimal.
            Tiga tahun setelah pernikahan, Mira melahirkan Santi. Seharusnya Mira sudah memiliki anak setahun yang lalu. Tapi ia keguguran karena terjatuh dari lantai tempatnya bekerja. Namun, Mira tidak putus asa dan berusaha untuk membahagiakan suaminya. Ia berhasil menghadirkan buah hati. Randi sangat senang dengan hadiah dari istrinya itu. Tapi, tidak lima tahun kemudian.
            “Apa yang terjadi dengan Randy dokter?” Tanya Mira dengan nada lemah. Wajahnya suram dan terlihat sangat tidak bersemangat. Ruangan ICU sangat sepi hanya seorang perawat sedang mencatat identitas korban satunya lagi.
            “Apakah ia suami ibu?”
            Mira diam dan menatap sebentar sang dokter.
            “Apakah ibu baik-baik saja?”
            “Saya baik dokter. Saya tidak apa-apa.” Iapun membuka suara dengan tegar dan kuat.
            “Baiklah, Sara hanya sedikit luka di kepalanya. Tapi Randi mengalami cidera parah di beberapa anggota tubuhnya. Kemungkinan ada beberapa hal buruk yang akan membuat ibu lebih tegar mengahadapinya. Ibu yang sabar. Semuanya ada hikmah” Dokter seperti sudah paham dengan situasi yang terjadi. Dokter hanya berbicara pada topik permasalahan. Dokter merasa bahwa harus mengatakan secara langsung. Hal ini juga dapat memudahkan segala masalah.
            Mira terus menunduk dan menatap kosong ke lantai rumah sakit. Ia pun menangis. Ia sama sekali tak menyangka atas kejadian pelik ini. Ia tak mau bertanya lagi, yang ada hanya memerihkan hati. Menambah luka yang semakin dalam. Lebih baik ia mendengar daripada berbicara. Dokter itu pergi meninggalkan Mira sendiri. Suasana benar-benar lenggang. Ia terkulai lemas dan tidak berdaya. Di kejauhan seorang gadis kecil berlari-lari menemuinya dan memeluknya dengan sigap.
            “Ibu kenapa menangis?”
            “Tidak sayang. Ibu hanya kelilipan.” Ucapnya lirih.
            Mira melepas genggaman putrinya dan memulas pipinya. Ia menuju ruangan suaminya di rawat. Menatap suaminya dan seseorang di sampingnya dengan balutan perban berwarna putih yang sebagiannya di banjiri darah. Mira merasa tak sanggup melihat apa yang terjadi. Ia tertekan serasa ingin mati. Dadanya sesak. Tapi lagi-lagi Santi membuatnya ingin hidup sampai gadis kecilnya itu dewasa nanti. Ia serba salah dan akhirnya ia berdoa meminta petunjuk.
***
            Lima bulan yang lalu.
            “Apa yang kamu lakukan Mira.” Randi meninggikan suaranya.
            “Aku hanya ingin kamu dan Santi ada yang menjaga.” Mira mencoba menenangkan suaminya yang mulai emosi.
            “Ini bukan jalan keluar.” Ucap Randi dan memegang bahu Mira.
            “Ini cara yang tepat bagiku Randi.” Mira bersuara rendah.
            “Hentikan omong kosong ini Mira. Kamu tetap istriku. Apapun yang kamu alami kamu tetap wanita yang aku cintai.” Randi memegang kedua pipi Mira dan melekatkan dahinya ke dahi Mira. Randi menangis keras. Ia tidak mau berpisah dengan Mira.
            “Aku mohon. Demi aku dan Santi Randi.” Ucap Mira sambil mengenggam tangan suaminya itu.
            Randi menatap kecewa dengan Mira. Rasanya ia ingin membenci semua takdir yang terjadi. Tapi, apa boleh buat. Ini semua bukan kehendak mereka. Mau tidak mau Randi harus menjalani pernikahan kedua kalinya. Mira sangat sulit untuk diajak mengerti tentang hati Randi. Tapi Randi sadar atas pengorbanan sang istri. Mira sengaja memilih di madu karena penyakit kistanya. Ia memilih Sara sebagai sahabat terbaiknya. Sara juga beberapa kali menolak tak ingin menghancurkan rumah tangga Mira.
            “Ini bukan kamu yang mau Sara. Aku yang memintamu, aku mohon kali padamu.”
            Sara terdiam. Perlahan-lahan ia meneteskan air mata. Tanpa berkata apapun, bahkan tanpa melihat Mira pun, Mira langsung memutuskan bahwa Sara menerima permintaannya.
            “Randi, kamu benar maukan menerima permintaan terakhirku?”
            Randy masih menunduk.
            “Randy.” Pria itupun menatap tegas pada Mira. Wajahnya menonjolkan kemarahan yang besar namun matanya memperlihatkan rasa sayang dan cinta yang tak terbendung lagi oleh air mata.
            “Baik Mira. Tapi izinkan aku mempersiapkan diriku benar-benar dalam lima bulan ini. Aku ngak bisa melangsungkan pernikahan begitu saja.”
            “Baik. aku terima.” Terdengar suara petir menyambar. Hujan turun deras. Menunjukkan kedua pasangan itu dari kaca jendela yang diuapkan udara hujan.
***
            Mira menatap taman rumah sakit. Terduduk di kursi panjang dekat sebuah pohon yang lebat daunnya. Ia merenung seperti merasa menyesal telah memaksa Randi dan Sara melakukan kemauannya. Mira berharap dengan kepergiannya ke Inggris, untuk melakukan terapi akan membuatnya sembuh dan kembali memulihkan rumah tangganya. Seandainya Mira tak berputus asa untuk hidup sebelum kejadian itu, dan mencari tahu pada kerabatnya di Inggris untuk penyembuhan, pastilah hal buruk itu takkan terjadi. Dan benar saja, harapannya untuk hidup terwujud. Setelah hamir setahun Mira menjalani pengobatan yang ditemani Ibunya dan Sara. Namun, Randi harus menghabiskan waktunya bertahun-tahun di kursi roda karena lumpuh. Cinta sejati tidak pernah mengkhianati hati mereka. Saling menerima dan belajar dari masa lalu. Mira dengan suka cita dan tulus merawat Randi. Sara telah di karuniakan satu orang anak dari pernikahannya dengan adik ipar Mira yaitu Ruslan.  Dokter itu benar. Segala ketetapan Tuhan menghasilkan nilai dan hikmah. Alhasil, semuanya berakhir utuh dan lebih indah.
            SAAT KEJADIAN KECELAKAAN
            Saat itu, Randi merasa berat beban yang ia dapatkan. Pekerjaan sudah tidak lagi terbenak dan dipikirkan. Hidupnya hampa tanpa Mira. Dan Sara juga tak ingin menyakiti suami sahabatnya itu. Saat mereka mencari Mira yang belum pulang selama dua minggu. Randi tidak sadar bahwa mobilnya sedang kondisi rusak. Ia tidak tahan dengan wajah Mira yang menghantui pikirannya. Hingga hari itu, sebuah sepeeda motor menyebrang. Randi tidak memperhatikan dan kecelakaan itu terjadi.
           
  

Sepenggal Puisi
UDARA KEMATIAN

Aroma menghembus
Membawa pesan
Bukan sembarang kata
Punya tujuan yang tertanam dalam

Suara seluit terdengar runcing
Menyatu hitam ditindih merah berdarah
Masa sudah semakin menengah
Menandakan akan dipanggil sesaat lagi

Seseorang terlihat gontai berjalan
Menyebarkan aroma tapi mengasingkan badan
Ia berpakaian pucat
Rambut-rambutnya mengacak sinar rembulan
Mencari sehelai harapan
Ingin menyentuh dan membawanya
Hati telah remuk terhantam badai
Sesal dan pukulan tak cukup mengalihkan

Mungkin aroma maut adalah akhir
Sebuah rindu yang dibalik kebenarannya adalah maaf
Mata-mata telah siap menikam nyawanya
Mungkin bukan hanya dirinya
Dan menjadi perbincangan para udara kematian



Rabu, 01 Januari 2020

Filem Inspiratif (Menginspirasi dan Memotivasi)


Filem-filem Inspiratif Bolywood
            Industri perfileman bolywood sudah tidak diragukan lagi kualitasnya, bahkan banyak filem bolywood yang mendunia termasuk di Indonesia. Filem bolywood terkenal dengan tarian dan nyanyian yang unik dan sangat enak didengar. Filem-filem bolywood banyak mengangkat kisah-kisah sosial yang didalamnya juga terdapat kisah roman, action, drama, dan inspiratif.  Berikut merupakan filem-filem inspiratif yang akan membuat kamu menangis dan termotivasi.

1. Hitchki  2019

            Menjadi seorang guru tidaklah mudah, terutama bagi Naina Mathur (Rani Mekerji) seorang lulusan magister Sains yang bercita-cita menjadi guru. Namun sayangnya, ia memiliki penyakit  Tourette Syndrome yang membuatnya selalu mengalami gerakan-gerakan spontan dan parahnya Naina tidak dapat mengontrolnya. Penyakit itu bisa datang kapan saja, termasuk ketika Naina tampil di depan siswanya. Penyakit itu menyebabkan ia selalu mendapatkan penolakan berkali-kali saat melamar sebagai guru ke sekolah-sekolah. Sampai pada akhirnya, salah satu sekolah menerimanya. Namun, ia ditempatkan pada kelas yang berisikan anak-anak nakal dan berlatar belakang keluarga kurang mampu. Disinilah Naina banyak mendapat cemohan bahkan ia diperlakukan bukan seperti guru. Namun, karena kesabaran dan tekatnya, siswa-siswa tersebut menjadi luluh dengan rajin belajar sehingga menghasilkan nilai yang tinggi. Ending filem ini, digambarkan Naina sudah berusia tua dengan murid-muridnya yang miskin menjadi sukses dan berprestasi.

2. Super 30 2019

                Super 30 diangkat berdasarkan kisah nyata. Filem ini menceritakan tentang kejeniusan seorang Anand Kumar (Hritik Roshan)  dalam ilmu matematika. Anand sangat rajin dan tekun dalam belajar. Ia rela menempuh perjalanan melalui kereta api selama enam jam demi sampai ke perpustakaan kota setiap minggunya. Anand Kumar berhasil menyelesaikan soal matematika yang belum pernah terpecahkan. Hal tersebut membawa namanya masuk dalam jurnal asing dan ia diundang ke Camdbridge University. Namun karena kondisi keluarganya yang miskin ditambah sang ayah meninggal dunia, Anand harus melepaskan impiannya ke Camdbridge, ia  bekerja siang dan malam dengan menjual Papads. Aktivitas bekerja tidak menghalanginya untuk meneruskan belajar, sehingga mengangkat namanya menjadi guru matematika jenius yang terkenal. Anand mengajar di sekolah favorit di India dan menghasilkan banyak uang.
             Saat Anand pulang mengajar dengan menggunakan becak, pengendara becak tersebut berbicara tentang pendidikan masa itu. Hal tersebut membuat Anand harus membangun sekolah gratis kepada anak-anak miskin. Keputusannya membuat kekasihnya Supriya (Mrunal Thakur) kecewa sehingga terpaksa meninggalkannya. Walaupun demikian, Anand tetap membangun sekolah tersebut dengan siswa berjumlah 30. Anand mengajari siswa-siswanya dengan baik sehingga semua siswanya lulus beasiswa di IIT.  Cerita ini ditutup dengan tokoh Fakku salah satu siswa Anand yang menjadi ilmuwan. Fakku mengatakan bahwa pendidikan mampu merubah hidupnya yang miskin menjadi sukses, dan itu juga dikarenakan Anand.

2. MOM  2017

                Tidak semua ibu tiri itu kejam. Seperti kisah pada filem Mom yang diperankan oleh Almarhumah Sri Devi. Sri Devi memerankan karakter Devki sebagai ibu tiri Arya (Sanjay Ali). Devki adalah guru Biologi yang sangat disukai oleh siswanya kecuali Arya anak tirinya. Devki selalu mencoba melakukan pendekatan kepada Arya namun Arya enggan dan acuh dengan kasih sayang Devki. Hingga pada suatu malam kejadian tragis menimpa Arya, ia diperkosa oleh sejumlah laki-laki saat di pesta malam, dan menyebabkannya tertekan, histeris dan depresi. Hal tersebut membuat Devki sedih sehingga ia berusaha keras untuk mengungkapkan pelaku perusak kehidupan Arya. Devki marah dan membalaskan perbuatan buruk pelaku, disinilah Arya menyadari betapa Devki peduli dan menyayanginya.  

3. Virus 2019

            Sebuah penyakit langka (Nipah)  menimpa negara India pada tahun 2018. Penyakit yang awalnya terjadi di Malaysia ini membuat banyak masyarakat India di Karela menderita bahkan tidak sedikit yang meninggal. Virus merupakan filem yang diangkat berdasarkan kisah nyata tentang wabah Nipah. Nipah ditularkan melalui Kelelawar pemakan buah. Ketakutan masyarakat akan tersebarnya penyakit ini, membuat beberapa pihak berjuang mencari jalan keluar agar virus Nipah dapat dihilangkan. Filem ini banyak menampilkan adegan-adegan dramatis keluarga dan kisah cinta dikarenakan Nipah.

4. Hamid 2019

            Hamid (Talha Arshad) harus menjadi yatim diusianya yang masih anak-anak. Kisah sedih Hamid bermula saat Hamid meminta ayahnya (Sumit Kaul) mengambil mainan kesayangannya yang tertinggal di bengkel tempat ayahnya bekerja. Demi rasa sayang ayahnya kepada Hamid mengharuskannya kembali ke bengkel saat malam hari. Namun ayahnya tidak pulang-pulang diduga telah hilang dan dibunuh. Kematian sang ayah membuat ibu kandungnya tidak lagi memperdulikannya bahkan menyalahkannya. Ibunya menyibukkan diri  mencari jasad suaminya di kantor polisi. Hamid harus melakukan apapun dengan sendiri. Ia juga harus bekerja dan menyerahkan gajinya kepada ibunya.

5. Sanju 2018

            Filem ini menceritakan biografi Sanjay Duut dimulai masa mudanya. Kisah Sanjay Duut diperankan oleh aktor tampan Ranbir Kapoor diawali dengan perilaku Sanju yang terpengaruh oleh Mistry seorang pengedar narkoba. Sanju yang berasal dari keluarga kaya dimanfaatkan Mistry dengan memberikannya narkoba sebagai penenang karena Sanju merasa dikendalikan oleh ayahnya (Sunil Duut) yang berprofesi sebagai Produser. Beberapa waktu kemudian Sanju menyadari bahwa Mistry bukanlah sahabat yang baik, sehingga Sanju memukul dan menyalahkan Mistry atas hancurnya hubungan Sanju dengan ayahnya. Saat Sanju mengunjungi ibunya yang sakit di New York, seorang pria misterius yaitu Kamlesh (Vicky Kausal)  mengirim bunga secara diam-diam ke ruang ibunya dirawat, dan diketahui oleh Sanju. Sanju dan Kamlesh berteman akrab, dan Sanju berubah baik juga dikarenakan Kamlesh yang peduli dan rela mengorbankan dirinya jauh-jauh menemui Sanju ke India. Sanju direhabilitasi, dan memulai karirnya di dunia bolywood. Tetapi, sebuah cobaan besar menimpanya. Ia difitnah sebagai teroris, dan disinilah kisah Sanju semakin menyedihkan dengan menghadirkan persoalan-persoalan lainnya. 

6. Kaabil 2017

            Sepasang kekasih tuna netra menjalani kisah cintanya dengan sangat indah dan menginspirasi. Pasalnya, kedua pasangan yang diperankan oleh (Hritik Rhosan) sebagai Rohan Bhatnagar dan istrinya Supriya (Yami Gautam) dijodohkan oleh masing-masing teman mereka. Perjodohan mereka awalnya tidak disukai oleh Supriya karena ia lebih suka hidup sendiri dan mandiri. Namun, karena Rohan telah jatuh cinta pada pertemuan pertama, perjuangannya mendapatkan Supriyapun berhasil. Tak beberapa lama kemudian merekapun menikah. Tetapi, rumah tangga mereka mengalami kerumitan karena Supriya diperkosa oleh Amit dan Wasit. Kasus itu tak henti-hentinya membuat Rohan berusaha untuk mendapatkan keadilan atas kondisi buruk Supriya. Namun, karena kakak Amit seorang politikus terkenal, maka perbuatannya dapat ditutupi oleh salah satu pihak berwajib. Supriya yang merasa kasihan terhadap Rohan, iapun meminta Rohan untuk berhenti melaporkan kasusnya kepada kepolisian. Harapan Supriya dan Rohan untuk tidak ganggu lagi oleh Amit, malah membuat Amit semakin melakukan perbuatan buruk itu lagi pada Supriya. Amit memanfaatkan kebutaan Supriya sebagai pelampiasan nafsunya kapanpun ia mau. Karena Supriya tidak mau menyakiti Rohan atas ketidaksuciannya lagi, Supriyapun bunuh diri dan membuat Rohan marah besar.

7. Bharat 2019

            Tahun 1974 Gautam Kumar (Jacky Shorff) beserta keluarganya harus pindah ke India karena kerusuhan yang terjadi di Pakistan. Ribuan orang berdesakan di stasiun kereta api demi menyelamatakan diri mereka, termasuk keluarga Gautam. Bersama anaknya Bharat (Salman Khan) Gautam mengandeng istrinya dan Bharat menggandeng Gudiya adik perempuanya. Namun, Bharat tidak sengaja melepaskan Gudiya karena seseorang telah menginjak tangannya sehingga Gudiya terlepas dari genggamannya dan hilang. Hal itu membuat Gautam harus mencari Gudiya sampai ketemu. Sebelum Gautam mencari Gudiya, ia berpesan pada Bharat untuk menjaga ibu dan adiknya sampai kapanpun. Tak berselang lama, kereta api segera melaju. Bharat dan ibunyapun tidak bisa menunggu. Bharat pergi tanpa ayahnya. Ia harus melaksanakan janji tersebut dan disinilah perjuangan Bharat dari masa kecilnya hingga sampai ia menemukan kembali Gudiya yang telah menikah dan tinggal di Kota London.

9. Nerja 2016

            Neerja Bhanot, adalah pramugari cantik yang berhasil mengagalkan pembajakan pesawat pada tahun 1986. Filem ini diangkat beradasarkan kisah nyata. Kisah Neerja tidak hanya tentang keberaniannya menghadapi para teroris, tetapi juga menggambarkan sosok Neerja (Sonam Kapoor) yang periang namun memiliki kisah kelam. Berdasarkan masa lalunya, Neerja menjadi wanita yang tangguh dan kuat saat mengalami kekerasan oleh mantan suaminya, hal itu juga yang membawanya menjadi wanita pemberani yang cerdik untuk melawan teroris demi menyelematkan 360 penumpang. Neerja yang awalnya merupakan seorang model harus berdalih profesi sebagai pramugari untuk menghidupi keluarganya. Kisah Neerja banyak mendapatkan penghargaan dari dalam negeri maupun dari luar (Amerika).


10. Pihu 2018

            Kisah dalam filem ini akan membuat para orangtua khawatir akan kejadian yang terjadi pada filem ini terjadi juga pada keluarganya. Pasalnya, filem ini menceritakan tentang balita berusia dua tahun yang telah ditinggalkan ibunya saat Pihu akan merayakan ulangtahunnya. Namun, orangtuanya bertengkar dan hal itu membuat Ibunya Puja banyak meminum obat penenang hingga meninggal. Keesokan paginya, Pihu menemukan Puja belum bangun seperti biasa. Awalnya Pihu membiarkannya karena ia mengira ibunya tertidur. Tetapi karena Pihu harus ke toilet dan kelaparan iapun berusaha membangunkan sang ibu namun usahanya gagal. Hal tersebut membuat Pihu terpaksa melakukan segalanya dengan sendirian, termasuk mencari makan. Pada bagian inilah, keseruan aktivitas Pihu yang menegangkan. Bahkan filem ini, begitu dalam menggambarkan kejadian-kejadian yang akan berdampak buruk pada Pihu sehingga penonton khususnya para orangtua takut.