Minggu, 22 Maret 2020

Cerpen, Puisi & Pengetahuan


PENYESALAN DAN CINTA

            Matahari tampak bersinar terang. Hawa panas begitu terasa. Para pedagang kaki lima tak henti-hentinya memulas kening bahkan seluruh wajahnya karena basah oleh keringat. Orang-orang yang mondar-mandir di pinggir jalan sesekali memperhatikan orang-orang disampingnya. Seorang bocah perempuan menggunyah permen karet lalu membuangnya di tengah jalan. Sang ibu yang melihatnya segera berhenti dan menasehatinya untuk tidak melakukan hal buruk itu lagi di manapun. Sang anak hanya menatap ibunya dengan wajah penuh peneyesalan. Sang ibu pun tak tega melihat gadis kecilnya yang memperlihatkan wajah layu seperti ingin menangis. Lalu wanita dengan kerudungnya yang coklat segera mengendong anaknya dan tersenyum. Ia mengatakan “Ibu tidak marah sayang.” Sang anak memeluk ibunya karena merasa tenang.
            Drugggghhhh suara hantaman terdengar tiba-tiba. Suara itu menghentikan orang-orang yang memenuhi pinggir jalan lalu segera  mengerumuni untuk melihat kejadian. Wanita dengan gadis kecilnya tadi terkejut.” Ibu suara apa itu?”. Sang ibupun memulas lembut pipi putrinya dan mengatakan “Tidak ada apa-apa”. Terbenak di hatinya untuk melihat kejadian itu. Barangkali seseorang yang tertabrak tersebut adalah orang yang dikenal pikirnya. Tapi, melihat putrinya yang masih kecil, ia merasa harus mengurungkan niatnya. Tidak baik rasanya memperlihatkan kejadian buruk kepada anak dibawah umur. Tapi, entah kenapa hatinya memaksa untuk melihat. Ia pun berpikir untuk menitipkan gadis kecilnya sebentar pada Ibu Maimunah warung kelontong langganannya. Ia menuju warung itu dengan sedikit cepat sambil mengendong putrinya dengan menghabiskan waktu perjalanan 15 menit.
            “Ibu tolong jaga Santi ya.” Pintanya dengan nafas tersengal. Ibu Maimunah melihat wanita itu dan anaknya dengan heran.
            “Oh iya boleh buk. Memang ada apa?” Tanya bu Maimunah.
            “Ada keperluan sebentar.”
            “Oh begitu, boleh buk Mira. Ayo sini sama wawak.” Kata buk Maimunah sambil membuka kedua tangannya seperti ingin memeluk Santi. Santi melepaskan kain baju ibunya yang sepanjang jalan terus digenggamnya. Santi dengan suka rela ditinggalkan ibunya. Ia sudah menganggap bu Maimunah seperti temannya.
            Mira terlihat berjalan dengan tergesa-gesa. Kadang-kadang muncul dipikirannya untuk apa melihat tabrakan itu. Inikan hal biasa dan sering terjadi. Tapi, Mira adalah orang yang paling tidak bisa memendam rasa penasarannya. Inikan hanya sebentar saja pikirnya.
            Mira sedikit lagi tiba di lokasi. Orang-orang masih berkerumunan melingkari lokasi kejadian. Mira sedikit sulit memasuki kerumunan itu. Sepertinya kejadian ini sangat parah ucap dalam hatinya. Asap hitam masih mengepul di udara. Suara klskson para pengendara terdengar berisik ditambah lagi suara orang-orang yang saling membicarakan tabrakan itu. Akhirnya Mira berhasil melewati kerumunan. Ia sampai dan masih mencari-cari korban tabrakan tersebut. Tiba-tiba darahnya terasa dingin, jantungnya berdetak kencang, dan matanya membesar. Ia menganga, lalu menutup mulutnya melalui tangan kananya.
            “Ya Allah.... benarkah ini.” Ucapnya tidak percaya sambil menggelengkan kepala.
***
            Meja makan terlihat lezat dengan hidangan beraneka ragam masakan. Sebuah rumah menampakkan orang-orang yang terlihat sibuk menyiapkan sebuah acara besar. Ada yang memasang tenda, panggung haiburan, dan pelaminan besar nan mewah. Rumah itu menampilkan hiasan-hiasaan indah dengan tangga yang panjang melingkar. Gagangnya terbuat dari kayu berwarna coklat berukiran bunga. Seorang wanita turun dengan anggun mengenakan pakaian pengantin menuju para tamu. Orang-orang itu tak lain adalah keluarga Mira dan calon suaminya yang menampakkan wajah ceria dan bahagia. Mira tersenyum simpul sambil memegang bunga. Ia didampingi oleh kakaknya menuju penghulu untuk segera mengikrarkan pernikahan. Setelah menuruni anak tangga, kakaknya melepaskan rangkulan dan diganti oleh Sara sahabat masa kecilnya.
            “Aku malu Sara.” Ucap Mira sambil memegang erat tangan sahabatnya.
            “Ahh kamu itu kenapa sih. Masa malu, macam kenal Randi dari perjodohan orangtuamu saja. Kaliankan sudah sembilan tahun menjalin cinta.” Sara terkekeh kecil menertawakan sahabatnya.
            “Ih bukan itu. Inikan hari yang dek..dekan lo.” Bisiknya lagi.
            “Udah.. kita mau sampai ni. Tenang ya.”
            “Bismillah.” Mira berucap sambil mengelus dadanya.
            Di depan seorang pria mengenakan jas hitam bersama kopiahnya. Pria itu terlihat gagah dan tampan. Lesung pipinya memancarkan keceriaan pada sang pujaan Mira. Pria itu memberikan tangganya untuk mengajak Mira duduk disampingnya. Mira tersipu malu. Randi masih menatapnya yang tak jemu-jemu oleh kejelitaan Mira yang memukau di hari istimewa mereka.
            “Apakah semuanya siap.” Tanya penghulu.
            “Siaaaapp.” Ucap para tamu.
            “Bagaimana dengan kamu Randi?”
            “Bismillah pak. Saya siap.” Ucapnya tegas namun bernada pelan sambil tersenyum.
            Pak penghulu memegang tangan Randi dan menuntunnya untuk mengucapkan janji suci dihadapan khalayak. Mira dan Randipun telah sah menjadi suami istri. Mereka terlihat saling bertatap dan Randi mencium keningnya yang halus. “Aku bahagia.” Bisik Mira. “Aku lebih bahagia istriku.” Mira tertawa kecil dan melirik Sara yang dari kejauhan memperhatikan keduanya.
            Pernikahan itu berlangsung meriah. Tak sedikitpun tampak wajah-wajah lelah. Mereka berbahagia atas pernikahan sepasang pengantin yang telah menjalin cinta selama bertahun-tahun. Mira dan Randi memiliki pemikiran yang sama, kesukaan yang hampir seluruhnya sama, dan terpenting adalah cinta yang akan selalu terjaga selamanya. Sara sahabatnya tak luput dari suksesnya pesta itu. Ia selalu merencanakan yang terbaik bagi Mira dan Randi. Kisah cinta itu awalnya tak direstui pihak wanita. Lantaran Randi yang belum berkecukupan dan belum bekerja. Tapi Randi tak menyerah mempertahakan hubungan yang dibina sejak mereka SMA. Mira sebagai sarjana bisnis Inggris, memiliki beragam ide membangun perusahaan yang telah dipercayakannya. Randi yang juga sejurusan dengannya di Indonesia  turut membantu, sehingga mereka berhasil menggapai hasil yang maksimal.
            Tiga tahun setelah pernikahan, Mira melahirkan Santi. Seharusnya Mira sudah memiliki anak setahun yang lalu. Tapi ia keguguran karena terjatuh dari lantai tempatnya bekerja. Namun, Mira tidak putus asa dan berusaha untuk membahagiakan suaminya. Ia berhasil menghadirkan buah hati. Randi sangat senang dengan hadiah dari istrinya itu. Tapi, tidak lima tahun kemudian.
            “Apa yang terjadi dengan Randy dokter?” Tanya Mira dengan nada lemah. Wajahnya suram dan terlihat sangat tidak bersemangat. Ruangan ICU sangat sepi hanya seorang perawat sedang mencatat identitas korban satunya lagi.
            “Apakah ia suami ibu?”
            Mira diam dan menatap sebentar sang dokter.
            “Apakah ibu baik-baik saja?”
            “Saya baik dokter. Saya tidak apa-apa.” Iapun membuka suara dengan tegar dan kuat.
            “Baiklah, Sara hanya sedikit luka di kepalanya. Tapi Randi mengalami cidera parah di beberapa anggota tubuhnya. Kemungkinan ada beberapa hal buruk yang akan membuat ibu lebih tegar mengahadapinya. Ibu yang sabar. Semuanya ada hikmah” Dokter seperti sudah paham dengan situasi yang terjadi. Dokter hanya berbicara pada topik permasalahan. Dokter merasa bahwa harus mengatakan secara langsung. Hal ini juga dapat memudahkan segala masalah.
            Mira terus menunduk dan menatap kosong ke lantai rumah sakit. Ia pun menangis. Ia sama sekali tak menyangka atas kejadian pelik ini. Ia tak mau bertanya lagi, yang ada hanya memerihkan hati. Menambah luka yang semakin dalam. Lebih baik ia mendengar daripada berbicara. Dokter itu pergi meninggalkan Mira sendiri. Suasana benar-benar lenggang. Ia terkulai lemas dan tidak berdaya. Di kejauhan seorang gadis kecil berlari-lari menemuinya dan memeluknya dengan sigap.
            “Ibu kenapa menangis?”
            “Tidak sayang. Ibu hanya kelilipan.” Ucapnya lirih.
            Mira melepas genggaman putrinya dan memulas pipinya. Ia menuju ruangan suaminya di rawat. Menatap suaminya dan seseorang di sampingnya dengan balutan perban berwarna putih yang sebagiannya di banjiri darah. Mira merasa tak sanggup melihat apa yang terjadi. Ia tertekan serasa ingin mati. Dadanya sesak. Tapi lagi-lagi Santi membuatnya ingin hidup sampai gadis kecilnya itu dewasa nanti. Ia serba salah dan akhirnya ia berdoa meminta petunjuk.
***
            Lima bulan yang lalu.
            “Apa yang kamu lakukan Mira.” Randi meninggikan suaranya.
            “Aku hanya ingin kamu dan Santi ada yang menjaga.” Mira mencoba menenangkan suaminya yang mulai emosi.
            “Ini bukan jalan keluar.” Ucap Randi dan memegang bahu Mira.
            “Ini cara yang tepat bagiku Randi.” Mira bersuara rendah.
            “Hentikan omong kosong ini Mira. Kamu tetap istriku. Apapun yang kamu alami kamu tetap wanita yang aku cintai.” Randi memegang kedua pipi Mira dan melekatkan dahinya ke dahi Mira. Randi menangis keras. Ia tidak mau berpisah dengan Mira.
            “Aku mohon. Demi aku dan Santi Randi.” Ucap Mira sambil mengenggam tangan suaminya itu.
            Randi menatap kecewa dengan Mira. Rasanya ia ingin membenci semua takdir yang terjadi. Tapi, apa boleh buat. Ini semua bukan kehendak mereka. Mau tidak mau Randi harus menjalani pernikahan kedua kalinya. Mira sangat sulit untuk diajak mengerti tentang hati Randi. Tapi Randi sadar atas pengorbanan sang istri. Mira sengaja memilih di madu karena penyakit kistanya. Ia memilih Sara sebagai sahabat terbaiknya. Sara juga beberapa kali menolak tak ingin menghancurkan rumah tangga Mira.
            “Ini bukan kamu yang mau Sara. Aku yang memintamu, aku mohon kali padamu.”
            Sara terdiam. Perlahan-lahan ia meneteskan air mata. Tanpa berkata apapun, bahkan tanpa melihat Mira pun, Mira langsung memutuskan bahwa Sara menerima permintaannya.
            “Randi, kamu benar maukan menerima permintaan terakhirku?”
            Randy masih menunduk.
            “Randy.” Pria itupun menatap tegas pada Mira. Wajahnya menonjolkan kemarahan yang besar namun matanya memperlihatkan rasa sayang dan cinta yang tak terbendung lagi oleh air mata.
            “Baik Mira. Tapi izinkan aku mempersiapkan diriku benar-benar dalam lima bulan ini. Aku ngak bisa melangsungkan pernikahan begitu saja.”
            “Baik. aku terima.” Terdengar suara petir menyambar. Hujan turun deras. Menunjukkan kedua pasangan itu dari kaca jendela yang diuapkan udara hujan.
***
            Mira menatap taman rumah sakit. Terduduk di kursi panjang dekat sebuah pohon yang lebat daunnya. Ia merenung seperti merasa menyesal telah memaksa Randi dan Sara melakukan kemauannya. Mira berharap dengan kepergiannya ke Inggris, untuk melakukan terapi akan membuatnya sembuh dan kembali memulihkan rumah tangganya. Seandainya Mira tak berputus asa untuk hidup sebelum kejadian itu, dan mencari tahu pada kerabatnya di Inggris untuk penyembuhan, pastilah hal buruk itu takkan terjadi. Dan benar saja, harapannya untuk hidup terwujud. Setelah hamir setahun Mira menjalani pengobatan yang ditemani Ibunya dan Sara. Namun, Randi harus menghabiskan waktunya bertahun-tahun di kursi roda karena lumpuh. Cinta sejati tidak pernah mengkhianati hati mereka. Saling menerima dan belajar dari masa lalu. Mira dengan suka cita dan tulus merawat Randi. Sara telah di karuniakan satu orang anak dari pernikahannya dengan adik ipar Mira yaitu Ruslan.  Dokter itu benar. Segala ketetapan Tuhan menghasilkan nilai dan hikmah. Alhasil, semuanya berakhir utuh dan lebih indah.
            SAAT KEJADIAN KECELAKAAN
            Saat itu, Randi merasa berat beban yang ia dapatkan. Pekerjaan sudah tidak lagi terbenak dan dipikirkan. Hidupnya hampa tanpa Mira. Dan Sara juga tak ingin menyakiti suami sahabatnya itu. Saat mereka mencari Mira yang belum pulang selama dua minggu. Randi tidak sadar bahwa mobilnya sedang kondisi rusak. Ia tidak tahan dengan wajah Mira yang menghantui pikirannya. Hingga hari itu, sebuah sepeeda motor menyebrang. Randi tidak memperhatikan dan kecelakaan itu terjadi.
           
  

Sepenggal Puisi
UDARA KEMATIAN

Aroma menghembus
Membawa pesan
Bukan sembarang kata
Punya tujuan yang tertanam dalam

Suara seluit terdengar runcing
Menyatu hitam ditindih merah berdarah
Masa sudah semakin menengah
Menandakan akan dipanggil sesaat lagi

Seseorang terlihat gontai berjalan
Menyebarkan aroma tapi mengasingkan badan
Ia berpakaian pucat
Rambut-rambutnya mengacak sinar rembulan
Mencari sehelai harapan
Ingin menyentuh dan membawanya
Hati telah remuk terhantam badai
Sesal dan pukulan tak cukup mengalihkan

Mungkin aroma maut adalah akhir
Sebuah rindu yang dibalik kebenarannya adalah maaf
Mata-mata telah siap menikam nyawanya
Mungkin bukan hanya dirinya
Dan menjadi perbincangan para udara kematian



Rabu, 01 Januari 2020

Filem Inspiratif (Menginspirasi dan Memotivasi)


Filem-filem Inspiratif Bolywood
            Industri perfileman bolywood sudah tidak diragukan lagi kualitasnya, bahkan banyak filem bolywood yang mendunia termasuk di Indonesia. Filem bolywood terkenal dengan tarian dan nyanyian yang unik dan sangat enak didengar. Filem-filem bolywood banyak mengangkat kisah-kisah sosial yang didalamnya juga terdapat kisah roman, action, drama, dan inspiratif.  Berikut merupakan filem-filem inspiratif yang akan membuat kamu menangis dan termotivasi.

1. Hitchki  2019

            Menjadi seorang guru tidaklah mudah, terutama bagi Naina Mathur (Rani Mekerji) seorang lulusan magister Sains yang bercita-cita menjadi guru. Namun sayangnya, ia memiliki penyakit  Tourette Syndrome yang membuatnya selalu mengalami gerakan-gerakan spontan dan parahnya Naina tidak dapat mengontrolnya. Penyakit itu bisa datang kapan saja, termasuk ketika Naina tampil di depan siswanya. Penyakit itu menyebabkan ia selalu mendapatkan penolakan berkali-kali saat melamar sebagai guru ke sekolah-sekolah. Sampai pada akhirnya, salah satu sekolah menerimanya. Namun, ia ditempatkan pada kelas yang berisikan anak-anak nakal dan berlatar belakang keluarga kurang mampu. Disinilah Naina banyak mendapat cemohan bahkan ia diperlakukan bukan seperti guru. Namun, karena kesabaran dan tekatnya, siswa-siswa tersebut menjadi luluh dengan rajin belajar sehingga menghasilkan nilai yang tinggi. Ending filem ini, digambarkan Naina sudah berusia tua dengan murid-muridnya yang miskin menjadi sukses dan berprestasi.

2. Super 30 2019

                Super 30 diangkat berdasarkan kisah nyata. Filem ini menceritakan tentang kejeniusan seorang Anand Kumar (Hritik Roshan)  dalam ilmu matematika. Anand sangat rajin dan tekun dalam belajar. Ia rela menempuh perjalanan melalui kereta api selama enam jam demi sampai ke perpustakaan kota setiap minggunya. Anand Kumar berhasil menyelesaikan soal matematika yang belum pernah terpecahkan. Hal tersebut membawa namanya masuk dalam jurnal asing dan ia diundang ke Camdbridge University. Namun karena kondisi keluarganya yang miskin ditambah sang ayah meninggal dunia, Anand harus melepaskan impiannya ke Camdbridge, ia  bekerja siang dan malam dengan menjual Papads. Aktivitas bekerja tidak menghalanginya untuk meneruskan belajar, sehingga mengangkat namanya menjadi guru matematika jenius yang terkenal. Anand mengajar di sekolah favorit di India dan menghasilkan banyak uang.
             Saat Anand pulang mengajar dengan menggunakan becak, pengendara becak tersebut berbicara tentang pendidikan masa itu. Hal tersebut membuat Anand harus membangun sekolah gratis kepada anak-anak miskin. Keputusannya membuat kekasihnya Supriya (Mrunal Thakur) kecewa sehingga terpaksa meninggalkannya. Walaupun demikian, Anand tetap membangun sekolah tersebut dengan siswa berjumlah 30. Anand mengajari siswa-siswanya dengan baik sehingga semua siswanya lulus beasiswa di IIT.  Cerita ini ditutup dengan tokoh Fakku salah satu siswa Anand yang menjadi ilmuwan. Fakku mengatakan bahwa pendidikan mampu merubah hidupnya yang miskin menjadi sukses, dan itu juga dikarenakan Anand.

2. MOM  2017

                Tidak semua ibu tiri itu kejam. Seperti kisah pada filem Mom yang diperankan oleh Almarhumah Sri Devi. Sri Devi memerankan karakter Devki sebagai ibu tiri Arya (Sanjay Ali). Devki adalah guru Biologi yang sangat disukai oleh siswanya kecuali Arya anak tirinya. Devki selalu mencoba melakukan pendekatan kepada Arya namun Arya enggan dan acuh dengan kasih sayang Devki. Hingga pada suatu malam kejadian tragis menimpa Arya, ia diperkosa oleh sejumlah laki-laki saat di pesta malam, dan menyebabkannya tertekan, histeris dan depresi. Hal tersebut membuat Devki sedih sehingga ia berusaha keras untuk mengungkapkan pelaku perusak kehidupan Arya. Devki marah dan membalaskan perbuatan buruk pelaku, disinilah Arya menyadari betapa Devki peduli dan menyayanginya.  

3. Virus 2019

            Sebuah penyakit langka (Nipah)  menimpa negara India pada tahun 2018. Penyakit yang awalnya terjadi di Malaysia ini membuat banyak masyarakat India di Karela menderita bahkan tidak sedikit yang meninggal. Virus merupakan filem yang diangkat berdasarkan kisah nyata tentang wabah Nipah. Nipah ditularkan melalui Kelelawar pemakan buah. Ketakutan masyarakat akan tersebarnya penyakit ini, membuat beberapa pihak berjuang mencari jalan keluar agar virus Nipah dapat dihilangkan. Filem ini banyak menampilkan adegan-adegan dramatis keluarga dan kisah cinta dikarenakan Nipah.

4. Hamid 2019

            Hamid (Talha Arshad) harus menjadi yatim diusianya yang masih anak-anak. Kisah sedih Hamid bermula saat Hamid meminta ayahnya (Sumit Kaul) mengambil mainan kesayangannya yang tertinggal di bengkel tempat ayahnya bekerja. Demi rasa sayang ayahnya kepada Hamid mengharuskannya kembali ke bengkel saat malam hari. Namun ayahnya tidak pulang-pulang diduga telah hilang dan dibunuh. Kematian sang ayah membuat ibu kandungnya tidak lagi memperdulikannya bahkan menyalahkannya. Ibunya menyibukkan diri  mencari jasad suaminya di kantor polisi. Hamid harus melakukan apapun dengan sendiri. Ia juga harus bekerja dan menyerahkan gajinya kepada ibunya.

5. Sanju 2018

            Filem ini menceritakan biografi Sanjay Duut dimulai masa mudanya. Kisah Sanjay Duut diperankan oleh aktor tampan Ranbir Kapoor diawali dengan perilaku Sanju yang terpengaruh oleh Mistry seorang pengedar narkoba. Sanju yang berasal dari keluarga kaya dimanfaatkan Mistry dengan memberikannya narkoba sebagai penenang karena Sanju merasa dikendalikan oleh ayahnya (Sunil Duut) yang berprofesi sebagai Produser. Beberapa waktu kemudian Sanju menyadari bahwa Mistry bukanlah sahabat yang baik, sehingga Sanju memukul dan menyalahkan Mistry atas hancurnya hubungan Sanju dengan ayahnya. Saat Sanju mengunjungi ibunya yang sakit di New York, seorang pria misterius yaitu Kamlesh (Vicky Kausal)  mengirim bunga secara diam-diam ke ruang ibunya dirawat, dan diketahui oleh Sanju. Sanju dan Kamlesh berteman akrab, dan Sanju berubah baik juga dikarenakan Kamlesh yang peduli dan rela mengorbankan dirinya jauh-jauh menemui Sanju ke India. Sanju direhabilitasi, dan memulai karirnya di dunia bolywood. Tetapi, sebuah cobaan besar menimpanya. Ia difitnah sebagai teroris, dan disinilah kisah Sanju semakin menyedihkan dengan menghadirkan persoalan-persoalan lainnya. 

6. Kaabil 2017

            Sepasang kekasih tuna netra menjalani kisah cintanya dengan sangat indah dan menginspirasi. Pasalnya, kedua pasangan yang diperankan oleh (Hritik Rhosan) sebagai Rohan Bhatnagar dan istrinya Supriya (Yami Gautam) dijodohkan oleh masing-masing teman mereka. Perjodohan mereka awalnya tidak disukai oleh Supriya karena ia lebih suka hidup sendiri dan mandiri. Namun, karena Rohan telah jatuh cinta pada pertemuan pertama, perjuangannya mendapatkan Supriyapun berhasil. Tak beberapa lama kemudian merekapun menikah. Tetapi, rumah tangga mereka mengalami kerumitan karena Supriya diperkosa oleh Amit dan Wasit. Kasus itu tak henti-hentinya membuat Rohan berusaha untuk mendapatkan keadilan atas kondisi buruk Supriya. Namun, karena kakak Amit seorang politikus terkenal, maka perbuatannya dapat ditutupi oleh salah satu pihak berwajib. Supriya yang merasa kasihan terhadap Rohan, iapun meminta Rohan untuk berhenti melaporkan kasusnya kepada kepolisian. Harapan Supriya dan Rohan untuk tidak ganggu lagi oleh Amit, malah membuat Amit semakin melakukan perbuatan buruk itu lagi pada Supriya. Amit memanfaatkan kebutaan Supriya sebagai pelampiasan nafsunya kapanpun ia mau. Karena Supriya tidak mau menyakiti Rohan atas ketidaksuciannya lagi, Supriyapun bunuh diri dan membuat Rohan marah besar.

7. Bharat 2019

            Tahun 1974 Gautam Kumar (Jacky Shorff) beserta keluarganya harus pindah ke India karena kerusuhan yang terjadi di Pakistan. Ribuan orang berdesakan di stasiun kereta api demi menyelamatakan diri mereka, termasuk keluarga Gautam. Bersama anaknya Bharat (Salman Khan) Gautam mengandeng istrinya dan Bharat menggandeng Gudiya adik perempuanya. Namun, Bharat tidak sengaja melepaskan Gudiya karena seseorang telah menginjak tangannya sehingga Gudiya terlepas dari genggamannya dan hilang. Hal itu membuat Gautam harus mencari Gudiya sampai ketemu. Sebelum Gautam mencari Gudiya, ia berpesan pada Bharat untuk menjaga ibu dan adiknya sampai kapanpun. Tak berselang lama, kereta api segera melaju. Bharat dan ibunyapun tidak bisa menunggu. Bharat pergi tanpa ayahnya. Ia harus melaksanakan janji tersebut dan disinilah perjuangan Bharat dari masa kecilnya hingga sampai ia menemukan kembali Gudiya yang telah menikah dan tinggal di Kota London.

9. Nerja 2016

            Neerja Bhanot, adalah pramugari cantik yang berhasil mengagalkan pembajakan pesawat pada tahun 1986. Filem ini diangkat beradasarkan kisah nyata. Kisah Neerja tidak hanya tentang keberaniannya menghadapi para teroris, tetapi juga menggambarkan sosok Neerja (Sonam Kapoor) yang periang namun memiliki kisah kelam. Berdasarkan masa lalunya, Neerja menjadi wanita yang tangguh dan kuat saat mengalami kekerasan oleh mantan suaminya, hal itu juga yang membawanya menjadi wanita pemberani yang cerdik untuk melawan teroris demi menyelematkan 360 penumpang. Neerja yang awalnya merupakan seorang model harus berdalih profesi sebagai pramugari untuk menghidupi keluarganya. Kisah Neerja banyak mendapatkan penghargaan dari dalam negeri maupun dari luar (Amerika).


10. Pihu 2018

            Kisah dalam filem ini akan membuat para orangtua khawatir akan kejadian yang terjadi pada filem ini terjadi juga pada keluarganya. Pasalnya, filem ini menceritakan tentang balita berusia dua tahun yang telah ditinggalkan ibunya saat Pihu akan merayakan ulangtahunnya. Namun, orangtuanya bertengkar dan hal itu membuat Ibunya Puja banyak meminum obat penenang hingga meninggal. Keesokan paginya, Pihu menemukan Puja belum bangun seperti biasa. Awalnya Pihu membiarkannya karena ia mengira ibunya tertidur. Tetapi karena Pihu harus ke toilet dan kelaparan iapun berusaha membangunkan sang ibu namun usahanya gagal. Hal tersebut membuat Pihu terpaksa melakukan segalanya dengan sendirian, termasuk mencari makan. Pada bagian inilah, keseruan aktivitas Pihu yang menegangkan. Bahkan filem ini, begitu dalam menggambarkan kejadian-kejadian yang akan berdampak buruk pada Pihu sehingga penonton khususnya para orangtua takut.

Rabu, 06 November 2019

ASYIK DAN BERMANFAATNYA MEMBACA BUKU FIKSI


ASYIK DAN BERMANFAATNYA MEMBACA BUKU FIKSI
            Membaca banyak memberi manfaat pada setiap orang. Tidak hanya sebagai bahan ajar atau pelajaran, tetapi juga dapat memberi jawaban untuk memecahkan suatu persoalan. Membaca meningkatkan intelektual sekaligus melatih kemampuan menulis. Hal ini sangat dibutuhkan khususnya para penulis atau pengarang terutama pemula. Namun, membaca juga untuk seluruh masyarakat luas, agar meningkatkan pemahaman dalam menghadapi zaman yang semakin mengalami perubahan. Melalui membaca, dapat menimbulkan gagasan-gagasan baru untuk dijadikan argumentasi secara lisan maupun tulis.
            Pentingnya membaca sebagai kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Rajin membaca bukan berarti sok pintar atau sok kutu buku ya! Justru mereka yang rajin membaca karena merasa kekurangan dalam wawasannya. Oleh karena itu, mereka banyak belajar agar semakin bertambah ilmu dan pengetahuannya. Seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Al- Mubaroq bahwa orang yang merasa dirinya pandai sebenarnya masih banyak yang harus ia pelajari. Sedangkan orang yang  benar-benar pintar akan merasa dirinya bodoh sehingga tak habis-habisnya ia menuntut ilmu salah satunya dengan banyak membaca buku. Sudah jelaskan. J
            Membaca itu tidak hanya mengenai ilmiah dan hal-hal yang berkenaan dengan kenyataan atau fakta saja. Buku fiksi salah satunya, yang juga memiliki banyak manfaat namun seringkali dianggap kurang penting bagi sebagian orang. Kalau memang buku fiksi itu seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang belum paham karya fiksi yang katanya “Kurang penting”, tidak akan mungkin jutaan bahkan milyaran buku berbagai genre dalam karya fiksi diseluruh dunia ini terus tumbuh bahkan semakin digemari. Perlu diingat! Dalam unsur karya fiksi mengandung amanat atau pesan moral yang dapat memperluas pemahaman pembacanya tentang makna dan pelajaran kehidupan, Buku fiksi  banyak menghadirkan hal-hal yang menimbulkan emosional pembaca, bahkan tidak sedikit buku-buku fiksi seperti Cerpen dan novel mengangkat tema-tema edukasi, religi, inspirasi, sejarah, sosial, dan lain sebagainya, apalagi sampai-sampai diangkat menjadi seni pertunjukkan dan filem. Penulis contohkan saja pada novel Laskar Pelangi, Negeri 5 Menara, Bidadari-bidadari Surga, Hafalan Shalat Delisa, Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, atau Cerpen Robohnya Surau Kami, Filososfi Kopi, dan lainnya.
Novel Ederson Karya Andrea Hirata

            Selain itu, buku fiksi dapat mengembangkan minat litrasi masyarakat loh! Kenapa? Karena buku fiksi  menghasilkan kisah-kisah kehidupan  dengan keunikan-keunikan  si pengarang dalam menghasilkan cerita dan karakter tokohnya, sehingga menarik bahkan pembaca sampai bersimpati. Tidak sedikit pembaca fiksi yang terinspirasi akan ceritanya, bahkan sampai menangis, tertawa, dan menimbulkan penasaran akan akhir kisah yang sedang dibaca (Ini berdasarkan pengalaman yah!) J. Selain itu, buku fiksi tidak membosankan, karena saat membaca akan membuat kita terbawa pada alur dan penokohannya apalagi yang genrenya bersifat misteri, roman, atau fantasi.
             Lebih baik pergunakan keuangan kalian dengan menyisihkannya beberapa ribu rupiah untuk membeli buku, atau pergilah ke perpustakaan untuk meminjamnya agar hari-hari kalian diisi dengan membaca. Hal itu sangat positif. Namun membaca memang tidak hanya dengan buku saja, bisa juga melalui gedjed. Tetapi, dampak paparan sinarnya akan sangat berbahaya bagi penglihatan. Lebih baik membaca menggunakan buku agar lebih efektif dan menyehatkan. Kalau bisa jadikan koleksi. J
            Sampai disini dulu ya, semoga dapat bermanfaat. Semua jenis buku memiliki fungsi dan daya tarik tersendiri. Hal ini juga tergantung dari si pembaca dalam memahami isi bacaannya juga. Positif dan negatifnya dialah yang menentukannya. Semua hal yang ada di dunia ini, tidak lepas dari kekurangan juga kelebihan. Namun, perlu kita jelaskan juga beberapa argumen yang menganggap sesuatu tidak penting yang sesungguhnya memiliki pernanan besar dalam kehidupan masyarakat, salah satunya tentang buku fiksi. Pandanglah dunia ini luas. Jangan hanya melirik pada satu objek atau satu referensi. Bersikaplah skeptis. Sekian dan terimakasihJ

Oleh: Damayanti



Selasa, 22 Oktober 2019


Puisi-puisi Damay Ar-Rahman

KERTAS DAN CORETAN


Diruang ini aku menanti
Namun gemerisik yang membuli
Di penjabaran aksara-aksara kertas putih
Kutuntun untuk memperjelas maksud hati dan pikiran
Yang sudah habis terkikis pada konflik yang sama

Kedatanganku membawa harapan
Agar terungkap makna akan penyelesaian urusan
Sudah banyak tinta-tinda kuganti dengan baru
Begitupun kulitnya yang suci tak terkotori

Bila dikatakan kuat, itu tak bisa terhitung lagi
Segala nasib hanya diri yang mengalami
Mendengar frasa-frasa surga namun menggeser nurani
Merasakannya saja cukup menjadi tekanan yang dingin

Lhokseumawe, Maret 2019



KEDATANGAN


Rinai hujan berjatuhan pagi ini
Yang larut sebelum burung bersiul
Berdesah angin-angin menyahut
Diiringi suara yang menyapa lewat celah jendela
Untuk menutupi  waktu yang harus terbangun

Kesayupan aroma udara yang menerobos di atas ubun-ubun
Memberi nuansa untuk bermimpi pergi tanpa kembali
Seperti tangan digenggam erat susah terlepes
Yang berusaha untuk menyembunyikanku dari makan pagi dan siang
Entah sosok apa yang menimpali
Memarahi dari ujung kalbu
Apakah akhir hidup rasanya seperti ini
Tapi sepertinya aku akan kembali

Lhokseumawe, Maret 2019


Sabtu, 05 Oktober 2019

SEBUAH RAHASIA?
Damayanti

            Kumpulan asap menyelimuti dinding sudut kamar. Warna asap itu tidak seperti pada umumnya. Warnanya sedikit merah dan kekuningan. Baunya juga menusuk hingga rongga jantungku, wanginya seperti parfum milik Sasmita. Aku terhuyung melihat sekumpulan asap itu, mataku memar menatapnya yang semakin tebal. Lama-lama ketebalan asap itu sedikit berkabut, perlahan-lahan warna yang muncul sudah tak seseram awal kulihat tadi. Warna itu indah, seperti pelangi yang menghiasi langit ketika hujan reda sembilan belas hari yang lalu. Tetapi aku masih takut tak berani mendekati. Langkah kakiku gentar. Bibirku terkatup bisu. Bola mataku masih layu bak daun kering terlibas hujan deras, terus perih menyayat retina yang sudah berminggu-minggu terus mengalir butiran air matanya. Apalagi ditambah kejadian yang tak kutahu apa maksudnya.
            Aku menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan. Asap itu tak pudar dan terus menyesaki dada, hanya saja aku terheran akan warna yang berubah bersinar terang. Lalu mataku tak sengaja melihat kedua kaki yang berjalan akan menghampiriku. Kedua kaki itu bersih tanpa alas apapun. Aku memberanikan diri membuka mata. Sakit ku acuhkan, sedikit demi sedikit ku coba melihat. Dan aku tercengang, itulah orang yang membuatku seperti disiksa di dunia karena kehilangan. Aku berteriak ingin meraihnya, tetapi semakin menjauh dan tiba-tiba semua gelap.
            Aku bangun tersentak, langit-langit kamar terlihat tak terjadi apa-apa. Aku bernafas kencang, sekujur tubuhku berkeringat, mengingat tadi aku telah mengalami mimpi yang tak kuinginkan.
            “Ekhmmm”. Sebuah suara terdengar dekat ditelingaku. Awalnya aku mengira hanya suara tak jelas saja.  Tapi. “Ekhmm..,” suara itu datang lagi. Aku memutar bola mataku di setiap sudut kamar, dan seorang lelaki berjubah besar dengan rambut panjang sebahu berdiri dekat jendela sebelah kiri kamarku.
            “Siapa kamu.” Aku bertanya heran, “mengapa kamu ada dikamarku? Sedang apa kamu disini?”
            “Hai apa kabarmu nak. Senang bertemu denganmu.” Ia berkata sambil tersenyum hangat padaku.
            “Kamu siapa?” Tanyaku lagi dengan tatapan tajam padanya.
            “Perkenalkan anak muda, namaku Angin, aku ingin berbicara singkat padamu. Bolehkah aku duduk disampingmu?”
            Aku terdiam masih bingung menatapnya.
            “Bolehkan aku duduk disampingmu?” Tanyanya lagi.
            “Baiklah.” Jawabku singkat.
            “Kau terlihat lebih kurus dari dua bulan yang lalu, rambut tebalmu terlihat kotor dan wajahmu kusam. Kamar ini juga terlihat berantakan dan bau kotoran.”
            “Apa? “Jawabku pelan yang terus heran melihatnya.
            “Hahahahaha, mengapa kau menatapku dengan tidak sopan. Aku ini lebih tua darimu. Tenanglah.”
            Aku terus bisu dengan pernyataannya itu. Sepatahpun tidak kujawab.
            “Namamu Hans kan? Nama yang sangat dikagumi oleh banyak wanita bukan. Dan kau jatuh cinta satu diantaranya.”
            “Maksudmu apa?” Aku tak menduga pria tua ini akan bercerita apa.
            “Sasmita. Wanita yang amat kau cintai itu. Wanita cantik dengan rambut panjang yang sering kau belai bukan? Wanita yang akan kau janjikan surga cinta?”
            “Maaf, saya tidak ingin berdebat dengan Anda. Anda tidak saya kenali, dan tiba-tiba ada di kamar ini. Tolong bila tak ada yang penting, Anda bisa meninggalkan saya disini, atau Anda akan menyesal karena melihat sebuah kejadian buruk sesaat lagi, dan Anda akan dituduh melakukannya.” Aku berbicara sedikit tegas padanya.
            “Hahahahaha bukan aku yang menyesal, tapi kau yang menyesal karena menyuruhku pergi.” Dia memukul pundakku.
            “Apa maksud Anda? Anda siapa?”
            “Hans, di pertengahan malam ini, marilah kuajak kau menikmati warna-warna yang kau suka, pemandangan-pemandangan indah, dan sebuah RAHASIA.” Dia berkata serius, dan matanya terlihat meyakinkan.
            “Rahasia? Malam-malam begini? Tidak! Aku tetapi disini, dan mereka telah salah. Merekalah penyebabnya.”
            “Tenanglah, kau tetap disini.”
            “Disini?”
            “Iya.”
            Tiba-tiba pria itu memegang tanganku dan mengacungkannya dihadapan sebuah cahaya yang besar menyelimuti isi kamar. Aku terkejut, menatap takut.
            “Aku benci cahaya. Jangan datangkan cahaya dikamar ini.” Aku berteriak karena cahaya itu. Lalu mataku berair karena perih, dan lagi-lagi aku menutupnya dengan kedua telapak tanganku.
***
            Langit bercahaya terang. Dedaunan menguning keemasan. Angin bertiup halus menerpa wajah-wajah pejalan kaki di taman bunga kota. Pagi ini aku tak sedikitpun telat untuk menemui kekasih yang akan kuhadiahkan sebuah janji masa depan.
            “Hans.” Suara lembut terdengar tak jauh dari telingaku.
            Aku membalikkan badan dan tersenyum menatapnya. Wajah itu terlalu indah untuk kulepaskan dari retinaku. Pagi masih bersahabat, dan Sasmita semakin jelita karena matahari pagi yang tak sedikitpun berkurang akan cahayanya yang menyinari wajahnya.
            “Sayang, aku akan menikahimu. Pergilah bersamaku ke rumah. Akan aku katakan pada ayah dan ibu, untuk menjadikanmu ibu dari anak-anakku.”
            Sasmita tetap memamerkan senyuman manisnya, tetapi tiba-tiba garis bibir dan wajah indah itu berubah masam.
            “Sasmita, apakah kau mau menjadi istriku?”
            Ia masih terdiam tak berucap sepatahpun.
            “Sasmita, apakah kau tak mau menerima pinanganku?”
            “Ah bukan...bukan.....”
            “Maksudmu?”
            “Iya aku mau Hans. Aku mau.”
            Aku tersenyum lebar. Menatapnya berbinar-binar. Lihatlah, langitpun turut berbahagia, malah matahari semakin indah menyelimuti wajah Sasmita. Aku memeluknya. Memegang kedua pipinya.
            “Terimakasih sayang.”
            Seusai kata itu ku ucapkan, aku segera membawanya ke rumah. Dia masuk ke mobil dan tak lepas mengenggam tanganku.
            Aku menggedor pintu. Bibi membukanya. Kulihat ibu sedang merajut seperti biasa, dan ayah di belakang membaca koran.
            “Ibu, lihat siapa yang kubawa.”
            Ibu melihat Sasmita dengan senang, dan menyuruhnya duduk. Akupun memanggil ayah untuk segera duduk di kursi tamu. Samita menyalami ayah dan duduk disampingku.
            Seharusnya pagi ini lengkap dengan kesempurnaan cinta kami. Tetapi entah mengapa tiba-tiba langit gelap dan petir menyambar keras terasa di rumahku. Hatiku beku mendengar ucapan ayah menolak pernikahanku dengan Sasmita. Aku tak mengerti, mengapa ayah tega menolak permintaanku. Selama ini aku tak pernah meminta yang tinggi apapun itu. Kecuali cinta ini yang ku dambakan selama tujuh tahun.
            “Aku tak mengerti, mengapa ayah memperlakukan cinta kami seperti ini.”
            “Kau tak mengerti Hans.” Ucap Ayah.
            Pokoknya biar sekalipun nyawaku taruhannya, aku tetap menikahi Sasmita. Titik.
            Aku menarik lengan Sasmita dan membawanya keluar untuk menenangkan hatinya yang terluka atas kejadian tadi.
***
            “Indah Bukan, tetapi sayang berakhir nestapa.” Pria itu mengucapkannya dengan sendu.
            “Mengapa Anda tampakkan itu padaku.”
            “Agar kau tahu yang sebenarnya Hans.”
            “Tahu apanya, semua sudah cukup. Sasmita sudah pergi selamanya. Ia bunuh diri karena tidak bisa menikah denganku. Buat apa aku hidup. Tidak ada guna, semuanya sampah. Dan akulah sampah itu. Sampah yang harus dibakar.”
            Aku menangis, meronta dan melempar bantal ke dinding. Pria itu masih duduk disampingku dan wajahnya terlihat biasa. Seakan-akan aku yang disampingnya sama tenangnnya. Pria itu malah melipat tangannya. Menatapku yang terus mengacak rambut seperti orang kehilangan akal. Aku berlari menuju jendela kamar. Aku akan melompat agar bertemu Sasmita. Saat tingkap jendela kubuka, pinggangku seperti ditarik, dan aku terhempas ke tempat tidur. Pria itu berdiri, lalu menutup mataku dengan tangan kanannya.
            “Sasmita, yakinlah. Cinta kita abadi. Aku akan terus bersamamu kapanpun hingga maut menjemput. Berjanjilah untuk menemuiku di taman ini besok pagi jam lima. Kita akan pergi untuk menikah di tempat sahabatku Fandi.”
            Sasmita tersenyum dan mengangguk. Rambut lurusnya terbang oleh sepoi angin. Aku kembali memeluknya. Sasmita dan aku akan mempersiapkan diri dan pergi sejauh mungkin.
            “Itu salah. Aku melihat itu tidak ada. Jangan diputarkan kembali. aku mohon!”
            “Tenanglah. Coba kau lihat lagi Hans. Ini tinggal sedikit lagi. Rahasia itu akan membuatmu sadar semuanya. Aku menjamin setelah ini aku akan pergi darimu.” Pria tua itu kembali menyuruhku untuk melihat semuanya.
            Sudah lebih tiga jam aku menunggu Sasmita. Tapi ia belum muncul juga. Apa jangan-jangan terjadi apa-apa dengannya. Tidak. Aku tak boleh berpikir buruk. Bisa jadi ia sedang di jalan. Aku mondar-mandir sedari tadi. Tidak berhenti berharap. Ku yakin Sasmita datang. Kartu teleponku sudah kuganti begitupun dengannya. Jadi bagaimana bisa aku menghubunginya. Aku terus berbicara sendiri dalam hati. Menunduk melihat rumput dibawah.
            Jembatan besar kota tidak terlalu ramai dilewati. Saat itu memang masih sangat pagi sekali. Sasmita dengan gaun putih anggunya berjalan lemas. Matanya kosong dan rambutnya terurai di belai angin. Tangannya mengenggam setangkai mawar merah. Tapi merah itu juga mewarnai tangan putihnya. Perlahan-lahan mata kosong itu menderaikan air mata. Sasmita semakin terlihat seperti orang tak bernyawa. Lalu ia berdiri tepat ditengah jembatan, menatap lurus dan langit mulai memudar cerah.
            “Maafkan aku Hans, aku sangat mencintaimu. Aku ingin pergi bersamamu. Tapi aku takut. Aku takut sekali membuatmu sakit dan menyesal melakukannya. Kau akan meninggalkan keluarga yang sangat menyayangimu dibandingkan aku yang tidak ada apa-apanya. Aku salah telah membuatmu jatuh cinta padaku. Aku salah dan sangat salah telah mengkhianati cintamu. Sepucuk surat yang aku titipkan di bawah pohon taman itu kuharap membuatmu mengerti. Selamat tinggal Hans, semoga kau bahagia.”
            Sasmita menjatuhkan tubuhnya ke bawah jembatan. Pagi itu ia pergi untuk selamanya. Meninggalkan Hans yang menunggu. Hingga akhirnya kematian Sasmita membawanya pada penderitaan.
            “Sasmitaaaaa.” Aku menjerit memanggil namanya yang sudah terlanjur jatuh di sungai deras.
            “Hai Hans, itu sudah lalu. Jangan kau seperti ini. Cobalah kau cerna perkataan Sasmita. Ia merasa takut, bukan karena orangtuamu. Apakah kau mendengar apa yang dikatakannya? Ia sangat takut akan sesuatu, hingga ia harus membunuh dirinya. Dan ia juga mengirim surat padamu. Tapi kau pergi dan tak sempat membacanya.” Pria itu mengatakan dengan tegas padaku.
            “Aku tak pernah tahu.” Aku menjwab pelan dan bingung.
            “Surat itu tepat dibawah pohon cinta kalian. Dan kau tahu isi surat itu?”
            “Apa?”
            “Kau harus bisa menerima kenyataan. Bahwa Sasmita telah mengandung anak dari sahabatmu sendiri. Karena cintanya telah dibagi sejak kau kerja di luar negeri satu tahun yang lalu. Baiklah, kurasa waktuku telah habis, selamat tinggal nak. Jangan siakan hidupmu” Pria itupun pergi.